Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp15 Ribu, Ini Kata Ekonom

JAKARTA – Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyoroti meningkatnya risiko utang luar negeri di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam beberapa hari ini, mata uang garuda loyo hingga menembus Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat.

“Beban utang luar negeri (ULN) sektor swasta meningkat karena pendapatan sebagian besar diperoleh dalam bentuk rupiah, sementara bunga dan cicilan pokok berbentuk valas,” ujar Bhima dilansir dari tempo, Selasa, 5 Juli 2022.

Menurut Bhima, tidak semua perusahaan swasta yang memiliki utang luar negeri bakal melakukan hedging atau strategi untuk menekan risiko pelemahan rupiah. Namun, ia yakin situasi currency missmatch akan mendorong swasta melakukan berbagai cara, salah satunya efisiensi operasional.

Selain dampak terhadap utang luar negeri, ia khawatir gejolak rupiah akan memicu imported inflation atau kenaikan biaya impor, terutama pangan. Imported inflation mungkin terjadi walau sejauh ini belum dirasakan. Sebab, produsen masih menahan harga di tingkat konsumen.

“Tapi ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs, imbasnya ke konsumen juga,” ujar Bhima.

Advertorial

Advertorial

Mata uang rupiah, seperti yang tertampil di aplikasi RTI, melemah bahkan menembus angka Rp 15.962 pada pukul 11.31 WIB, kemarin. Level itu menunjukkan ada penguatan dolar Amerika Serikat sebesar 40 poin atau 0,27 persen dari awal perdagangan hari ini. Rupiah pun sempat menyentuh Rp 15.922 hingga Rp 15.966.

Jika dilihat dari pergerakan sejak bulan lalu, dolar Amerika Serikat berada di level peningkatan paling tinggi terhadap rupiah. Pada awal Juni, rupiah berada di posisi Rp 14.454 terhadap dolar. Lalu pada pertengahan Juni, rupiah bertengger di posisi Rp 14.600-14.800. Dolar terus menguat sampai akhir Juni, bahkan awet hingga saat ini.

Bhima berpendapat pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terjadi karena masih dibayangi sentimen negatif di pasar saham. Dia mencatat dana asing jual bersih Rp 572 miliar di seluruh pasar pada penutupan perdagangan kemarin.

“Investor memang mencermati risiko kenaikan The Fed rate terhadap Indonesia sehingga melakukan penjualan aset berisiko tinggi,” kata Bhima.

Data inflasi Juni yang cukup tinggi sejak 2017, kata dia, juga menjadi kekhawatiran risiko stagflasi. Apalagi BI masih menahan suku bunga tentu risknya naik di market. Cadang devisa akan makin tertekan disaat arus modal keluar tinggi sekaligus kinerja ekspor komoditas mulai terkoreksi. Salah satu alasan pelemahan rupiah juga karena BI masih menahan suku bunga.

“Ditahannya suku bunga acuan membuat spread imbal hasil US Treasury dengan surat utang SBN semakin menyempit,” ujarnya. (*/Tempo)