Guru Besar Psikologis Tekankan Kesiapan Mental Petugas Haji dalam Melayani Jemaah

 

JAKARTA — Guru Besar Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Abdul Mujid, menekankan pentingnya kesiapan psikologis petugas haji dalam memberikan pelayanan kepada jemaah, khususnya terkait kesehatan mental selama pelaksanaan ibadah haji.

Hal tersebut disampaikan Abdul Mujid dalam penyampaian materi dalam Diklat PPIH 2026, Senin (19/1/2026)

Ia menjelaskan bahwa psikologi tidak semata-mata berkaitan dengan penanganan orang yang mengalami gangguan kejiwaan, melainkan juga mencakup aspek psikologi industri dan organisasi, termasuk pengelolaan sikap, perilaku, serta profesionalisme dalam pelayanan.

“Yang paling penting adalah sikap dan perilaku petugas. Petugas haji harus memiliki mindset melayani, bukan dilayani. Kalau sejak awal secara psikologis sudah merasa tidak ingin melayani, maka di lapangan pasti akan muncul masalah,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi psikologis jemaah sangat bergantung pada kesiapan petugas. Jemaah haji umumnya menghadapi tekanan akibat perbedaan budaya, iklim, pola hidup, serta perubahan lingkungan, dari yang semula mandiri di rumah menjadi hidup bersama dalam akomodasi dan sistem pelayanan massal.

Abdul Mujid menilai, pada dasarnya hampir semua jemaah berpotensi mengalami stres. Namun, karakter dan latar belakang jemaah berbeda-beda, seperti perbedaan asal perkotaan dan pedesaan, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan.

“Petugas haji memang bukan psikolog, tapi setidaknya harus memiliki kemampuan dasar, misalnya bagaimana menenangkan jemaah yang sedang stres atau tertekan. Jika tidak mampu menangani secara menyeluruh, petugas harus bisa mengarahkan jemaah ke tenaga ahli, seperti psikolog atau tenaga kesehatan,” katanya.

Ia menambahkan, salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki petugas adalah kemampuan melakukan penanganan awal masalah psikologis.

Dengan kemampuan tersebut, petugas dapat membantu mengidentifikasi masalah utama yang dialami jemaah dan menentukan langkah penanganan yang tepat.

“Masalah psikologi itu sifatnya personal. Yang bisa dilakukan petugas adalah membantu menemukan masalah yang paling mendasar. Jika bisa ditangani, lakukan. Jika tidak, segera rujuk ke ahlinya. Dengan begitu, pelayanan kepada jemaah bisa berjalan lebih baik,” ujarnya.***

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien