Keutamaan Shalat Tarawih Malam Pertama: Momentum Kembali Fitrah di Awal Ramadan
LEBAK– Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Langit terasa lebih teduh, masjid mulai ramai selepas Isya, dan lantunan ayat suci terdengar hampir di setiap sudut kampung.
Di malam pertama Ramadan, umat Islam berbondong-bondong menunaikan shalat Tarawih, ibadah sunnah yang menjadi ciri khas bulan suci.
Bagi banyak orang, malam pertama Tarawih bukan sekadar rutinitas tahunan.
Ia adalah titik awal perjalanan spiritual selama sebulan penuh momen menyusun niat, memperbaiki diri, dan memohon ampunan atas segala kekhilafan.
Dalam sejumlah riwayat yang beredar di kalangan umat Islam, disebutkan bahwa malam pertama Tarawih menjadi awal turunnya limpahan ampunan Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Pesan utamanya bukan sekadar tentang pahala, tetapi tentang kesempatan untuk kembali bersih memulai lembaran baru seperti bayi yang baru dilahirkan.
Pesan spiritual ini mengajarkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang penyucian jiwa.
Tarawih di malam pertama menjadi simbol kesungguhan seorang hamba dalam menyambut bulan penuh rahmat.
Di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Lebak, suasana Tarawih malam pertama terasa istimewa. Anak-anak datang mengenakan pakaian terbaiknya, para orang tua berjalan bersama menuju masjid, sementara remaja turut memakmurkan saf-saf shalat.
Kebersamaan ini menghadirkan energi positif yang sulit ditemukan di bulan-bulan lain. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang silaturahmi dan penguat persaudaraan.

Dari sinilah nilai Ramadan tumbuh mempererat hubungan dengan Allah sekaligus sesama manusia.
Shalat Tarawih memiliki nilai ibadah yang tinggi karena dikerjakan secara konsisten sepanjang Ramadan.
Namun, yang terpenting bukan hanya kuantitas rakaat, melainkan kualitas kekhusyukan. Malam pertama sering menjadi penentu semangat hari-hari berikutnya.
Banyak ulama mengingatkan agar umat Islam tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi juga menghadirkan hati.
Fokus pada bacaan, memahami makna doa, serta memperbanyak istigfar menjadi bagian dari upaya menyempurnakan ibadah.
Ramadan adalah bulan evaluasi diri. Malam pertama Tarawih menjadi saat yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang ingin diperbaiki tahun ini? Apakah hubungan dengan keluarga sudah harmonis? Sudahkah menjaga lisan dan perbuatan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering kali menjadi awal perubahan besar. Karena sejatinya, Ramadan adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, dan empati.
Keutamaan Tarawih malam pertama mengingatkan bahwa Allah SWT membuka pintu ampunan selebar-lebarnya.
Tinggal bagaimana manusia menyambutnya dengan kesungguhan atau sekadar formalitas.
Malam pertama mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi nilainya bisa menentukan kualitas ibadah selama sebulan penuh. Dari sinilah perjalanan spiritual dimulai: satu langkah kecil menuju pribadi yang lebih baik.
Ramadan bukan hanya tentang satu malam, melainkan tentang konsistensi hingga akhir. Dan semuanya bermula dari Tarawih pertama saat hati mengetuk pintu langit dengan harapan baru. (*/Sahrul).


