Chandra Asri Akui Sedang Ada Kendala Teknis, Flaring Diklaim Sesuai Standar Demi Jaga Keamanan Sistem Pabrik

CILEGON – Aktivitas gas flaring PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) sejak kemarin Kamis (30/4/2020) sore, banyak mendapatkan sorotan dari masyarakat karena dinilai telah mencemari lingkungan. Salah satunya debu pekat dari cerobong pembakaran yang turun ke pemukiman pada saat hujan turun.

Selain itu, aktivitas flaring juga menimbulkan getaran sehingga dikeluhkan warga Link Cilodan, Kelurahan Gunungsugih, yang berdampak sejumlah rumah warga mengalami retak-retak.

BACA JUGA: Flaring PT Chandra Asri Sebabkan Getaran, Sejumlah Rumah Warga Retak-retak

Saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, Abraham Sinatrawan, Manager Corporate Social Responsibility PT CAP, mengakui bahwa flaring yang terjadi merupakan upaya yang sesuai standar demi menjamin keamanan sistem pada pabrik kimia tersebut.

“Pabrik Chandra Asri tanggal 30 April kemarin sedang mengalami sedikit kendala teknis, sehingga untuk menjamin keamanan baik di pabrik dan sekitarnya, serta mengurangi tekanan yang ada dalam perangkat pabrik, maka dilakukanlah pembakaran gas atau flaring,” ujar Abraham dihubungi melalui pesan Whatsapp, Jumat (1/5/2020).

Dikatakan Abraham, proses flaring ini dilakukan untuk menjaga agar tekanan di perangkat pabrik tidak berlebihan dan berada pada batas wajar.

Flaring tersebut telah dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku, dimana kami selalu mengukur tekanan serta suhunya agar sesuai dengan standar keamanan yang berlaku,” ungkapnya.

PT CAP juga menegaskan bahwa sistem yang diterapkan di pabriknya telah sesuai standar industri petrokimia dan regulasi yang diterapkan pemerintah.

Dishub

“Kami dapat sampaikan bahwa proses flaring tersebut dijalankan mengikuti ketentuan yang berlaku, dan benchmark praktik-praktik terbaik tata kelola operasional pabrik baik nasional maupun internasional,” jelas Abraham.

Proses flaring ini pun merupakan proses yang dapat terjadi pada saat pabrik sedang melakukan start-up, Abraham juga menyampaikan bahwa pihaknya akan menyelesaikan proses start-up pabrik dalam beberapa hari ke depan.

Terkait keluhan soal dugaan adanya pencemaran lingkungan, dampak dari flaring tersebut, Abraham mengaku sudah melakukan upaya koordinasi untuk meminimalisir dampak negatif di masyarakat.

“Kami tentunya selalu mendengar jika ada keluhan masyarakat. Tim kami telah bertemu langsung untuk advokasi, dan rembukan, untuk membicarakan apa saja yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak dari flaring kepada warga sekitar,” jelas Abraham.

Berita Terkait: Asap Flaring PT Chandra Asri Diduga Bikin Air Hujan Jadi Hitam?

“Tim kami juga sudah melakukan koordinasi dengan perwakilan masyarakat sekitar dan para pemangku kepentingan terkait dari pemerintah kota maupun pihak keamanan,” imbuhnya.

Ditegaskan Abraham, PT Chandra Asri Petrochemical yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Obyek Vital Nasional, selalu berkomitmen untuk menjadi industri yang mendukung pembangunan dan juga berdampak positif bagi masyarakat. Sebagai upaya untuk meminimalisir dampak negatif lingkungan, saat ini PT CAP tengah membangun enclosed ground flare, sehingga aktivitas flaring ke depannya tidak akan lagi menghasilkan asap pekat yang di lepas ke udara.

“Saat ini kita juga sedang finalisasi pembangunan enclosed ground flare atau suar tanpa asap, yang berguna untuk meminimalisir dampak lingkungan. Ini adalah komitmen kami untuk selalu menjaga lingkungan sekitar,” tutup Abraham. (*/AdamRT)

KPID Banten