Wisata Anyer

15 Tahun Bertahan di Gubuk Reot, Kisah Saminah di Lebak Buka Mata Soal Kemiskinan yang Terlewat Data

 

LEBAK – Di sudut Kampung Cikulur, Desa Muncangkopong, ada kisah yang tak banyak terdengar, namun menyimpan potret kerasnya kehidupan.

Saminah (51) menjalani hari-harinya di sebuah gubuk panggung sempit berukuran sekitar 2×2 meter tempat yang bahkan tak layak disebut rumah.

Sudah sekitar 15 tahun berlalu sejak rumah lamanya roboh karena lapuk dimakan usia. Sejak saat itu, tak ada pilihan lain selain bertahan di bangunan seadanya, beratap sederhana, berlantai bambu, dan berdampingan dengan kandang kambing.

Di bawah gubuknya, kambing milik orang lain dipelihara. Sementara di bagian atas, Saminah dan suaminya, Kapi (60), tinggal dalam kondisi serba terbatas. Kapi sendiri telah lama terbaring akibat stroke yang dideritanya sekitar satu dekade terakhir.

“Di bawah buat kambing, kami di atas,”kata Saminah pelan.

Kehidupan berjalan apa adanya. Penghasilan Saminah yang hanya sekitar Rp30 ribu per hari dari pekerjaan serabutan harus cukup untuk kebutuhan makan sekaligus merawat suami yang sakit.

“Dicukup-cukupin saja,” ujarnya.

Saat hujan turun atau angin kencang datang, gubuk kecil itu tak mampu memberi perlindungan yang layak. Air kerap masuk, dan dingin malam menjadi hal yang biasa dirasakan.

Tak hanya soal tempat tinggal, persoalan lain juga menghantui. Bantuan sosial yang dulu sempat diterima kini sudah tak lagi ia rasakan.

“Katanya data saya diblokir, jadi sekarang tidak dapat lagi,” ungkapnya.

Di tengah kondisi itu, Saminah tetap berjuang. Tiga anaknya menjadi harapan. Dua masih menempuh pendidikan di pesantren dengan bantuan pihak sekolah, sementara satu lainnya merantau ke Jakarta untuk bekerja.

Tetangga sekitar hanya bisa membantu semampunya. Rasa empati ada, namun keterbatasan juga dirasakan oleh warga lain.

“Kalau ada ya dibantu, tapi kami juga sama-sama susah,” kata Yuyu (32), tetangga Saminah.

Kondisi Saminah akhirnya mendapat perhatian setelah kisahnya menyebar dan menjadi perbincangan publik.

Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Sosial langsung turun tangan melakukan pengecekan ke lokasi.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Sosial, Lela Gifty Cleria, menyatakan bahwa kondisi yang ditemukan di lapangan sesuai dengan laporan yang beredar.

“Memang sangat memprihatinkan. Kami langsung koordinasi dengan pihak desa dan pendamping sosial,” ujarnya.

Dari hasil verifikasi, diketahui bahwa Saminah sebelumnya terdaftar sebagai penerima bantuan. Namun, dalam pembaruan data terbaru, statusnya berubah sehingga bantuan terhenti.

Saat ini, pemerintah tengah mengupayakan beberapa langkah, mulai dari pengaktifan kembali jaminan kesehatan hingga pembaruan data agar Saminah bisa kembali masuk dalam daftar penerima bantuan sosial.

Selain itu, bantuan logistik darurat sudah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pemerintah juga mendorong pengajuan program rumah layak huni melalui skema Rumah Sejahtera Terpadu.

Kisah Saminah bukan sekadar cerita individu. Ini menjadi gambaran nyata bahwa masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan ekstrem, bahkan luput dari sistem pendataan bantuan.

Di balik angka-angka statistik, ada kehidupan yang berjalan dalam diam menunggu perhatian, berharap perubahan.

Kini, harapan itu mulai tumbuh. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan.

Karena bagi Saminah, rumah yang layak bukan sekadar impian melainkan kebutuhan mendesak yang telah ia tunggu selama belasan tahun. (*/Sahrul).

Prokopim HUT Cilegon
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien