6 Tahun Menanti Kepastian, Pemkab Lebak Akhirnya Siapkan Anggaran Rp2 Miliar untuk Pembangunan Huntap Lebakgedong

 

LEBAK– Setelah enam tahun pascabencana banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan Kecamatan Lebakgedong pada 2020, secercah harapan mulai terbuka bagi ratusan warga korban bencana.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak memastikan kesiapan anggaran lebih dari Rp2 miliar untuk memulai tahap awal pembangunan hunian tetap (huntap) melalui pematangan lahan.

Langkah tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak, Halson Nainggolan.

Ia menjelaskan, Pemkab Lebak telah menyiapkan anggaran sebesar Rp2,08 miliar yang dialokasikan melalui skema pergeseran anggaran guna memenuhi kebutuhan teknis pematangan lahan yang diajukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Anggaran ini disesuaikan dengan perhitungan teknis dari PUPR. Kebutuhan pematangan lahan huntap sekitar Rp2 miliar lebih, dan saat ini proses pergeseran anggaran sudah berjalan,” kata Halson, Minggu (18/1/2026).

Menurutnya, Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Lebak saat ini tengah merampungkan proses administrasi sebagai prasyarat pelaksanaan pekerjaan.

Jika seluruh tahapan, termasuk proses lelang, berjalan tanpa kendala, Pemkab menargetkan pekerjaan pematangan lahan seluas kurang lebih 5,4 hektare dapat dimulai pada 26 Januari 2026.

“Targetnya akhir Januari sudah bisa mulai dikerjakan. Sesuai arahan Bupati, pematangan lahan ini menjadi fondasi penting sebelum pembangunan huntap dilakukan,” ujarnya.

Meski demikian, Halson belum dapat memastikan kemungkinan penambahan anggaran lanjutan untuk percepatan pembangunan rumah layak huni bagi para penyintas bencana.

Ia mengakui kondisi keuangan daerah pada 2026 menghadapi tekanan cukup berat, seiring pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat.

“Ruang fiskal kita terbatas. Tahun ini Kabupaten Lebak mengalami pemotongan transfer pusat sekitar Rp118 miliar. Tentu ini memengaruhi kemampuan pembiayaan program lain,” jelasnya.

Di sisi lain, ratusan warga korban bencana masih bertahan di hunian sementara (huntara) dengan kondisi yang memprihatinkan.

Sebanyak 221 kepala keluarga hingga kini menempati bangunan darurat berbahan bambu dan terpal, dengan lantai tanah merah yang rawan becek saat hujan turun. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien