Akses Wisata Lebak Selatan Timpang, Jalan Panggarangan-Citorek Tuai Sorotan Warga
LEBAK – Akses menuju kawasan wisata unggulan di Lebak selatan kembali menjadi bahan pembicaraan.
Jalur penghubung Panggarangan- Citorek yang seharusnya menjadi penopang mobilitas warga dan wisatawan justru dinilai belum tertata secara merata.
Kondisi ini mencuat setelah arus kunjungan meningkat, terutama pada momentum libur panjang dan mudik Lebaran.
Di sepanjang lintasan tersebut, perbedaan kualitas jalan terlihat jelas. Beberapa ruas sudah berlapis aspal halus, namun tak sedikit bagian lain yang masih berupa jalan berbatu, berlubang, bahkan berlumpur saat hujan turun.
Situasi ini membuat perjalanan terasa tidak konsisten nyaman di satu titik, namun berubah ekstrem di titik berikutnya.
Keluhan datang dari berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga wisatawan yang hendak menikmati keindahan alam Citorek.
Mereka menilai kondisi jalan yang belum sepenuhnya tersentuh pembangunan menjadi hambatan serius, baik dari sisi kenyamanan maupun keselamatan.
Ketua Kumala Rangkasbitung sekaligus warga Citorek, Heru, menilai persoalan ini bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan menyangkut wajah pariwisata Lebak secara keseluruhan.
“Kondisi ini sudah lama dirasakan masyarakat. Jalan yang tidak merata membuat perjalanan menjadi tidak efisien dan berisiko. Padahal Citorek ini punya potensi besar, tapi aksesnya belum sepenuhnya mendukung,” ujarnya kepada Fakta Banten, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, ketimpangan pembangunan di jalur tersebut menciptakan kesan setengah jadi.
Di satu sisi, pemerintah dinilai telah memulai pembangunan, namun di sisi lain masih menyisakan pekerjaan rumah yang cukup besar.
Dari sisi keselamatan, kondisi jalan yang berlubang dan licin dinilai rawan memicu kecelakaan, khususnya bagi pengendara roda dua dan pengunjung dari luar daerah yang belum mengenal karakter medan.
Minimnya penerangan di beberapa titik juga memperparah risiko saat perjalanan malam hari.
Tak hanya berdampak pada pengguna jalan, kondisi ini turut memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Distribusi hasil bumi hingga pergerakan wisatawan menjadi tidak optimal akibat waktu tempuh yang lebih lama dari seharusnya.
Heru berharap ada langkah nyata dan percepatan dari pemerintah untuk menyelesaikan pembangunan secara menyeluruh, bukan parsial.
“Harapannya sederhana, pembangunan jangan setengah-setengah. Kalau aksesnya baik, bukan hanya wisatawan yang diuntungkan, tapi juga ekonomi masyarakat lokal bisa ikut tumbuh,” tegasnya. (*/Sahrul).

