Berdiri Sejak Tahun 1905, Ini Sejarah Gereja Kristen Pasundan Di Kabupaten Lebak
LEBAK – Di tengah kokohnya akar budaya dan keagamaan masyarakat Banten, berdiri satu mercusuar yang telah lebih dari satu abad menyalakan terang iman Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Rangkasbitung.
Resmi berdiri pada 25 Juli 1905, gereja ini merupakan buah dari perjuangan panjang dan penuh pengorbanan dalam menyampaikan kabar sukacita di tanah yang dikenal sangat kuat dengan tradisi Islam-nya.
Kisah GKP Rangkasbitung tak bisa dilepaskan dari nama Antoine Adriaan Pennings, seorang utusan lembaga zending Belanda Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV).
Tiba di Batavia pada 1883 bersama istri dan anaknya, Pennings menetap di Rangkasbitung dan kemudian berpindah ke Leuwidamar pusat Kabupaten Lebak kala itu.
Di tempat baru ini, ia tak hanya menyebarkan ajaran Injil, tetapi juga membuka kelas baca-tulis, memberikan pelayanan kesehatan dasar, hingga membangun tempat ibadah dari bambu dan kayu nangka.
Tanggal 21 Juli 1895 menjadi titik awal berdirinya komunitas Kristen pribumi di wilayah Lebak, ditandai dengan baptisan terhadap Nariyah dan anaknya, Layar.
Pada Desember tahun yang sama, sebuah perayaan Natal pertama yang unik dilihat oleh warga sebagai peristiwa langka dan penuh rasa ingin tahu menjadi momentum penting dalam sejarah gereja ini.
Dalam enam tahun pelayanannya, Pennings berhasil menjangkau 31 orang pribumi.
Namun, tekanan sosial yang besar membuat banyak dari mereka akhirnya kembali ke keyakinan sebelumnya.
Sayangnya, perjuangan Pennings terhenti pada 8 Juli 1902, ia meninggal dunia, dan berdasarkan surat dari rekannya Tiemersma kepada NZV, diduga ia diracun.
Meski komunitas jemaat sempat terpecah, tongkat estafet pelayanan dilanjutkan oleh Tiemersma yang membangun gedung gereja pertama di kawasan Pecinan Rangkasbitung tahun 1905.
Kebaktian perdana di gereja ini dihadiri 23 jiwa, menandai hari kelahiran resmi GKP Jemaat Rangkasbitung.
Kini, lebih dari seabad sejak berdiri, GKP Rangkasbitung telah menjadi rumah iman bagi pemeluknya.
Jemaatnya mayoritas berasal dari suku Batak yang merantau ke Lebak. Selain GKP, kini hadir pula gereja-gereja lain di Kabupaten Lebak seperti GBI, GPdI, dan Gereja Katolik Paroki Santa Maria Tak Bernoda.
Namun jejak Pennings dan awal mula GKP tetap menjadi monumen spiritual yang tak tergantikan.
Sejarah GKP Rangkasbitung tak hanya mencatat jejak misionaris asing, tetapi juga bagaimana kabar baik berakar, tumbuh, dan bertahan di tengah keberagaman.
Di tanah yang pernah dituliskan Multatuli dalam “Max Havelaar”, kisah gereja ini menambahkan warna baru, tentang harapan, iman, dan ketekunan.
Sumber artikel ini dikutip dari akun Facebook@Neo Christposting Karya Sayembara Menulis Sejarah Gereja 2024 yang merupakan tulisan Daniel Adi Priyatmoko. (*/Sahrul).

