Iklan Banner

Dari Desa ke Pasar Dunia, Emping Melinjo Sindangsari Lebak Tembus Ekspor Asia dan Timur Tengah

Dedi Haryadi HUT Gerindra

 

LEBAK– Dari dapur-dapur sederhana di Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, produk emping melinjo lokal berhasil menembus pasar internasional.

Di tengah keterbatasan bahan baku dan proses produksi tradisional, emping khas Lebak justru menunjukkan daya saing tinggi hingga diminati pasar luar negeri.

Usaha emping melinjo yang telah bertahan puluhan tahun ini tidak hanya menjadi penopang ekonomi warga desa, tetapi juga bagian dari rantai ekspor pangan olahan Indonesia.

Salah satu rumah produksi yang konsisten mengirimkan emping ke luar daerah dan luar negeri dikelola oleh Nurlaela, yang telah mengembangkan usaha tersebut selama sekitar 25 tahun.

Produk emping dari Desa Sindangsari secara rutin dipasarkan ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Rangkasbitung, sebelum akhirnya didistribusikan ke Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi sesuai permintaan pasar.

Permintaan ekspor cenderung stabil karena emping melinjo dinilai memiliki cita rasa khas serta kualitas yang sesuai dengan selera konsumen luar negeri.

“Kalau permintaan pasar, justru tidak ada kendala. Yang menjadi tantangan kami sekarang adalah bahan baku,” ungkap salah satu pengrajin, Selasa (3/2/2026).

Dalam kondisi normal, satu rumah produksi dapat mengolah hingga satu kuintal melinjo per hari dan menghasilkan 45-50 kilogram emping.

Namun akibat pasokan melinjo yang terbatas, produksi saat ini menurun drastis hingga sekitar 17 kilogram per hari, sehingga berpengaruh terhadap kemampuan memenuhi permintaan dalam jumlah besar, termasuk untuk pasar ekspor.

Agil HUT Gerindra

Kenaikan harga emping juga tidak terelakkan. Saat ini emping melinjo dijual di kisaran Rp60 ribu per kilogram, meningkat dibandingkan sebelumnya.

Lonjakan harga dipicu mahalnya bahan baku melinjo yang kini mencapai Rp17 ribu-Rp18 ribu per kilogram.

Dalam kondisi tertentu, pengrajin bahkan harus mendatangkan melinjo dari luar daerah hingga Pulau Sumatera demi menjaga keberlangsungan produksi.

Meski begitu, usaha emping melinjo tetap memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

Satu unit usaha mampu menyerap belasan tenaga kerja lokal, sementara secara keseluruhan terdapat sekitar 20 rumah tangga pengrajin aktif di Desa Sindangsari.

Para perajin memperoleh penghasilan harian yang membantu menopang ekonomi keluarga.

Kepala Desa Sindangsari, Yudi, menyebut keberhasilan emping melinjo menembus pasar ekspor merupakan bukti bahwa produk UMKM desa memiliki potensi besar jika dikelola secara konsisten.

“Ini kebanggaan bagi desa. Produk rumahan bisa sampai ke luar negeri. Tinggal bagaimana dukungan pemerintah bisa memperkuat dari sisi bahan baku dan keberlanjutan,” ujarnya.

Ia berharap adanya intervensi kebijakan dari pemerintah daerah, terutama dalam pengembangan budidaya melinjo, agar pasokan bahan baku stabil dan peluang ekspor emping melinjo dari Lebak dapat terus diperluas.

Di tengah persaingan global, emping melinjo dari Desa Sindangsari membuktikan bahwa produk lokal, jika dijaga kualitas dan konsistensinya, mampu bersaing dan membawa nama daerah ke pasar internasional. (*/Sahrul).

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien