Gas Elpiji 3 Kilogram Langka, Warga Lebak Memilih Beralih ke Kayu Bakar
LEBAK – Awal Februari 2025, warga di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, mengalami kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram.
Kelangkaan ini membuat harga gas melon melonjak tinggi di pasaran, memaksa sebagian warga kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Sejumlah warga mengaku sudah berkeliling ke berbagai warung dan agen gas, namun hasilnya nihil.
Jika pun ada, harga gas subsidi ini jauh lebih mahal dibandingkan harga normal.
“Biasanya saya beli gas di warung dekat rumah seharga Rp22.000, sekarang harganya sudah Rp 25.000 bahkan ada yang menjual Rp 30.000,” kata Murni (43), warga Cibadak.
Menurut beberapa pedagang, mereka juga kesulitan mendapatkan stok dari agen karena pasokan yang terbatas.
“Saya biasanya dapat 10 tabung setiap minggu, sekarang sudah hampir 6 hari kosong,” ujar Heri (50), pemilik warung di Desa Aweh, Cibadak.
Akibat sulitnya mendapatkan gas elpiji, banyak warga Cibadak terpaksa beralih menggunakan kayu bakar sebagai alternatif.
“Saya terpaksa pakai kayu bakar lagi, seperti zaman dulu. Memang repot karena harus cari kayu kering dan nyalain api lebih lama, tapi daripada tidak bisa masak,” ungkap Siti (45), ibu rumah tangga di Cibadak.
Tidak hanya ibu rumah tangga, pedagang makanan kecil juga ikut terdampak. Beberapa dari mereka memilih beralih ke tungku tradisional agar tetap bisa berjualan.
“Saya jualan gorengan, biasanya pakai gas. Tapi karena gas susah, sekarang pakai kayu bakar. Rasanya beda, tapi saya tidak punya pilihan lain,” kata Asep (39), pedagang di Kampung Pasar Keong, Kecamatan Cibadak.
Kelangkaan gas ini membuat warga berharap ada tindakan dari pihak terkait untuk mengatasi masalah distribusi dan harga yang meroket.
“Kami harap ada solusi segera. Gas elpiji 3 kilogram ini untuk rakyat kecil, tapi justru kami yang paling sulit mendapatkannya,” ujar Rohman (47), warga lainnya. (*/Sahrul).

