Wisata Anyer

Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Lebak Turun ke Jalan hingga Galang Dana di Aspal

 

LEBAK– Kesabaran warga Kampung Sabagi, Desa Pasirtanjung, Kecamatan Rangkasbitung, akhirnya mencapai batas. Bertahun-tahun menghadapi jalan rusak tanpa kepastian perbaikan, warga memilih turun langsung ke jalan melakukan aksi protes sekaligus penggalangan dana secara swadaya.

Aksi tersebut berlangsung di ruas jalan kabupaten yang kondisinya rusak parah dan menjadi akses vital penghubung lima desa, yakni Desa Rangkasbitung, Pasirtanjung, Sangiangtanjung, Margajaya, dan Tambak.

Sebagai bentuk protes, warga meletakkan batu di badan jalan yang berlubang dan berlumpur. Kondisi jalan yang dulunya layak dilalui kini berubah menjadi kubangan yang menyulitkan aktivitas sehari-hari.

Padahal, lokasi tersebut hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Rangkasbitung atau sekitar 15 menit perjalanan.

Pantauan di lapangan, aksi diikuti puluhan warga dari berbagai kalangan, mulai dari bapak-bapak hingga ibu-ibu yang bahkan membawa anak-anak mereka.

Mereka berdiri di tengah jalan rusak sambil menyuarakan kekecewaan terhadap kondisi infrastruktur yang dinilai tak kunjung mendapat perhatian.

Tak hanya berorasi, warga juga melakukan aksi unik namun penuh makna: menggalang dana di jalan dengan membawa kardus kosong untuk meminta bantuan dari para pengguna jalan.

Koordinator aksi, Supriadi, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk keputusasaan sekaligus sindiran kepada pemerintah.

“Kami turun ke jalan ini karena sudah terlalu lama menunggu. Jalan ini rusak puluhan tahun, tapi belum juga diperbaiki. Akhirnya kami bergerak sendiri,” ujarnya kepada Fakta Banten, Rabu (18/3/2026).

Menurutnya, dana yang terkumpul dari aksi tersebut digunakan langsung untuk membeli material seperti batu dan semen guna memperbaiki jalan secara swadaya.

“Uang dari hasil minta bantuan ini kami belikan material. Kami ingin jalan ini bisa dilalui, karena ini kebutuhan sehari-hari warga,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua RW setempat, Piok, mengatakan aksi tersebut lahir dari akumulasi kekecewaan warga yang selama ini merasa tidak mendapatkan perhatian serius.

“Ini bentuk kekesalan warga. Jalan ini sudah lama rusak dan dibiarkan. Makanya warga turun langsung,” tegasnya.

Ia juga menyinggung harapan warga terhadap janji-janji pembangunan yang pernah disampaikan saat momentum politik.

Menurutnya, masyarakat hanya menginginkan akses jalan yang layak sebagai penunjang aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas harian.

Jalan tersebut bukan sekadar jalur biasa, melainkan urat nadi penghubung antar desa yang setiap hari dilalui warga untuk berbagai keperluan.

Namun, kondisi jalan yang dipenuhi lubang, batu, dan lumpur membuat perjalanan menjadi sulit, bahkan berisiko, terutama saat musim hujan.

Aksi warga ini menjadi potret nyata bagaimana masyarakat akhirnya memilih bergerak sendiri ketika harapan terhadap perbaikan tak kunjung datang.

Warga berharap, langkah yang mereka lakukan dapat membuka perhatian pihak terkait agar segera turun tangan dan memberikan solusi nyata terhadap kondisi infrastruktur yang selama ini mereka hadapi. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien