Lahan Milik Petani di Cisangu Lebak Berubah Jadi Lautan Air, Puluhan Hektare Sawah Terendam
LEBAK – Lahan pertanian milik warga di Desa Cisangu, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, berubah menjadi hamparan air luas.
Banjir yang datang berulang kali hampir satu bulan merendam puluhan hektare sawah dan menggagalkan musim tanam para petani.
Genangan tidak terjadi sesaat. Air sempat surut, namun kembali meluap dan menutup lahan pertanian.
Akibatnya, bibit padi hanyut terbawa arus, sementara tanaman yang sudah tumbuh membusuk karena terlalu lama terendam. Sawah yang biasanya hijau kini tampak kosong, menyerupai lautan air tanpa batas pematang.
Salah seorang petani setempat, Patoni mengatakan banjir kali ini menjadi yang terberat dalam beberapa musim tanam terakhir. Dari lahan yang ia kelola, sebagian besar tidak dapat diselamatkan.
“Airnya datang terus. Sudah hampir 1 bulan air naik turun tapi tidak pernah benar-benar kering. Padi yang baru ditanam hanyut, yang sudah agak besar akhirnya rusak,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Ia menjelaskan, kerugian tidak hanya pada hasil panen, tetapi juga biaya produksi yang telah dikeluarkan sejak awal. Benih, pupuk, hingga ongkos tanam habis tanpa hasil.
“Nyemai benih sudah dua kali, dua-duanya gagal. Kalau dihitung, kerugian bisa sampai puluhan juta rupiah,” kata Patoni.
Kondisi serupa dialami puluhan petani lain di wilayah Blok Cimenteng dan sekitarnya. Hampir seluruh area persawahan terdampak banjir dengan tingkat kerusakan berbeda-beda, mulai dari gagal tanam ulang hingga puso total.

“Yang sawahnya di pinggir jalan kena, yang di tengah juga sama. Hampir tidak ada yang aman,” ungkapnya.
Para petani menilai banjir bukan hanya disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga dipicu buruknya aliran air.
Saluran irigasi dan sungai utama dinilai mengalami pendangkalan serta penyumbatan yang sudah berlangsung lama.
“Kalau tidak ditangani serius, tiap tahun kejadiannya begini. Petani selalu jadi korban,” ujar Patoni.
Berdasarkan informasi, wilayah Cisangu memang menjadi daerah tampungan air dari sejumlah kawasan lain.
Aliran air bermuara ke Kali Cisangu yang kapasitasnya terbatas, sehingga saat debit meningkat, luapan tak terhindarkan.
Masih menurut informasi tersebut, dari sekitar 115 hektare lahan persawahan, lebih dari separuhnya terdampak banjir pada musim tanam kali ini.
Genangan air yang bertahan lama membuat petani tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan tanam ulang.
Warga berharap adanya penanganan jangka panjang, terutama normalisasi aliran sungai dan perbaikan sistem irigasi. Tanpa langkah nyata, banjir diprediksi akan terus berulang dan mengancam keberlangsungan pertanian warga.
Jika kondisi ini dibiarkan, lahan produktif di Cisangu berisiko terus berubah menjadi lautan air setiap musim hujan. Kerugian petani akan terus membengkak, sementara ketahanan pangan lokal semakin tertekan. (*/Sahrul).


