Iklan Banner

Refleksi 2025, Menelusuri Faktor Penghambat Kemajuan Kabupaten Lebak Menurut Para Ahli

Pandeglang Gerindra HUT

 

LEBAK – Kabupaten Lebak memiliki potensi besar untuk berkembang, baik dari sektor ekonomi, infrastruktur, hingga sumber daya manusia.

Namun, sejumlah hambatan masih menjadi kendala utama yang menghalangi percepatan kemajuan daerah ini.

Para ahli dan akademisi memberikan pandangan mereka mengenai berbagai faktor yang menghambat pertumbuhan Lebak serta solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Salah satu permasalahan utama yang masih dihadapi Kabupaten Lebak adalah infrastruktur yang belum sepenuhnya berkembang.

Akses jalan yang kurang memadai, kondisi jembatan yang masih butuh perbaikan, serta keterbatasan transportasi publik menjadi kendala utama bagi mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

Menurut Dr. Rahman, seorang pakar ekonomi pembangunan, ketertinggalan infrastruktur ini berpengaruh langsung terhadap investasi dan perekonomian daerah.

“Ketika akses jalan tidak optimal, distribusi hasil pertanian dan produk lokal menjadi terhambat. Hal ini berdampak pada daya saing ekonomi Lebak yang belum maksimal,” katanya kepada Fakta Banten, Kamis (6/3/2025).

Pendidikan dan keterampilan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan suatu daerah.

Sayangnya, meskipun angka partisipasi pendidikan meningkat, masih ada tantangan besar dalam hal kualitas lulusan dan kesiapan tenaga kerja di Lebak untuk menghadapi persaingan global.

Akademisi di Banten, Dr. Andre menyoroti bahwa sistem pendidikan dan pelatihan kerja di Lebak masih perlu ditingkatkan agar lebih relevan dengan kebutuhan industri.

“Banyak lulusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena keterampilan yang mereka miliki belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pemerintah daerah perlu mendorong program pelatihan yang lebih adaptif,” ungkapnya.

Di era digital, pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan suatu daerah.

Namun, di Lebak, masih banyak wilayah yang memiliki keterbatasan akses internet dan minimnya pemanfaatan teknologi dalam sektor ekonomi dan pelayanan publik.

Dr. Rizky, pakar teknologi informasi, menilai bahwa digitalisasi masih belum menjadi prioritas utama di Kabupaten Lebak.

“Ketika teknologi belum dimanfaatkan secara maksimal, banyak potensi daerah yang akhirnya tidak berkembang. Digitalisasi bisa membantu UMKM Lebak untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan efisiensi dalam pelayanan publik,” jelasnya.

Agil HUT Gerindra

Kemudian, peran media juga sangat vital dalam menjadi endorse Kabupaten Lebak.

“Namun, berdasarkan keterangan dari sejumlah teman-teman media, diduga pemerintah tidak terlalu mementingkan peran media, hematnya phobia. Ini adalah kesalahan terbesar bagi pemerintah,” tandasnya.

Regulasi yang kompleks dan birokrasi yang panjang sering kali menjadi penghambat bagi perkembangan ekonomi daerah.

Pelaku usaha di Lebak masih menghadapi berbagai kendala dalam mengurus perizinan dan mendapatkan akses pendanaan.

Menurut Andi Pratama, seorang pengamat kebijakan publik, reformasi birokrasi di Lebak masih perlu dilakukan secara lebih serius.

“Jika proses perizinan bisa dipermudah dan transparansi diperkuat, maka minat investor akan meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Meskipun sektor pertanian dan perdagangan di Lebak terus berkembang, masih terdapat ketimpangan ekonomi yang cukup signifikan.

Banyak masyarakat yang masih bergantung pada sektor informal dengan pendapatan yang tidak stabil.

Menurut data terbaru, angka kemiskinan di Kabupaten Lebak masih tergolong tinggi dibandingkan daerah lain di Banten.

Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif dan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Dr. Yulia seorang ekonom sosial, menilai bahwa program pemberdayaan ekonomi perlu lebih diperkuat.

“Pemerintah daerah harus lebih fokus pada kebijakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti penguatan UMKM, akses modal yang lebih mudah, serta pemberian insentif bagi pelaku usaha lokal,” tuturnya.

Memasuki tahun 2025, berbagai tantangan yang dihadapi Kabupaten Lebak perlu menjadi bahan evaluasi untuk mempercepat kemajuan daerah.

Sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media dan masyarakat harus diperkuat agar berbagai permasalahan yang ada dapat segera diatasi.

Perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, akselerasi digitalisasi, reformasi birokrasi, serta kebijakan ekonomi yang lebih inklusif menjadi kunci utama dalam mewujudkan Kabupaten Lebak yang lebih maju dan sejahtera.

Jika berbagai tantangan ini dapat diselesaikan secara bertahap, bukan tidak mungkin Lebak akan menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat di masa mendatang. (*/Sahrul).

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien