Retaknya Soliditas OKP Cipayung Plus di Lebak Pasca Aksi Disorot Aktivis, Ujian Kepemimpinan di Tengah Dinamika Pemuda

 

LEBAK– Pasca aksi unjuk rasa yang digelar oleh gabungan Organisasi Kepemudaan (OKP) di Kabupaten Lebak, muncul fenomena yang cukup memprihatinkan soliditas pimpinan OKP mulai retak.

Perbedaan strategi dan komunikasi yang kurang harmonis membuat sejumlah kader dan simpatisan bingung menentukan sikap.

Dari pantauan di lapangan, perbedaan pendapat terlihat jelas. Ada pimpinan yang mendorong forum terbuka secara masif setelah aksi pada Senin (2/3/2026), sementara sebagian lain memilih jalur audiensi dan diplomasi.

Perbedaan ini sebenarnya wajar dalam dinamika organisasi, namun menjadi persoalan ketika tidak dikelola dengan prinsip manajemen konflik yang sehat.

Beberapa kader menyayangkan lemahnya koordinasi lintas organisasi. Forum konsolidasi, yang seharusnya menjadi ruang penyatuan gagasan, justru berubah menjadi arena klaim ego sektoral dan debat tanpa solusi.

Menurut teori manajemen organisasi, konflik bukan musuh, melainkan energi yang bisa diarahkan. Jika konflik tidak dimediasi dengan transparan dan terbuka, potensi fragmentasi meningkat.

Dalam gerakan kepemudaan, di mana kekuatan kolektif menjadi fondasi, soliditas menjadi penentu keberhasilan pengaruh di ruang publik.

Idham M Haqim, salah satu peserta aksi, menilai bahwa perbedaan strategi sebenarnya wajar. Yang menjadi ujian adalah kemampuan kepemimpinan kolektif untuk meredam ego, membangun titik temu, dan menjaga barisan tetap kokoh.

“Perbedaan pandangan itu sehat, tapi kalau tidak dikelola dengan bijak, gerakan pemuda hanya jadi seremonial tanpa dampak nyata bagi kebijakan publik,” ujar Idham kepada Fakta Banten, Rabu (4/3/2026).

Momentum ini seharusnya menjadi refleksi bagi para ketua OKP. Solidaritas bukan sekadar hadir di depan saat aksi berlangsung, melainkan dibangun sejak tahap perencanaan melalui komunikasi intensif, pembagian peran yang jelas, dan komitmen terhadap tujuan bersama.

Jika manajemen konflik dijalankan dewasa, perbedaan pandangan justru bisa menjadi kekuatan strategis.

Namun jika dibiarkan, retaknya soliditas akan melemahkan posisi tawar pemuda di hadapan pemerintah dan publik.

Kini publik menunggu langkah nyata para pemimpin OKP di Lebak apakah mereka mampu menyatukan barisan, atau justru terjebak dalam konflik internal yang mengikis kredibilitas gerakan pemuda.

Momentum ini menjadi ujian kepemimpinan yang harus dijawab dengan bijak dan visioner. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien