Ribuan Warga Baduy Turun Gunung, Bawa Pesan Luhur ke Pendopo Lebak
LEBAK – Ribuan warga Baduy dari pedalaman Kabupaten Lebak kembali menapaki jalanan kota dengan penuh khidmat, menunaikan tradisi tahunan Seba Baduy 2025 yang menjadi simbol persaudaraan, pelestarian budaya, dan penghormatan terhadap pemerintah daerah.
Sejak Jumat (2/5/2025) sore sekitar pukul 15.00 WIB, barisan warga Baduy Dalam dan Luar mulai memasuki wilayah Rangkasbitung dengan mengenakan pakaian adat khas mereka.
Warga memanggul hasil bumi seperti pisang, gula aren, dan madu hutan yang akan diserahkan sebagai simbol persembahan kepada pemerintah daerah di Pendopo Bupati Lebak.
Tradisi Seba Baduy bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah ritual adat yang mengandung makna spiritual dan sosial.
Dalam prosesi ini, warga Baduy menyampaikan pesan dari tetua adat untuk menjaga kelestarian alam dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat modern.

“Saya datang dari Kanekes. Ini bukan hanya jalan kaki, tapi perjalanan hati. Seba ini pesan untuk semua: jangan lupa alam, jangan lupa adat,” ujar Sarna (40), salah seorang peserta Seba dari Baduy Luar.
Antusiasme juga datang dari masyarakat Lebak yang memadati sisi jalan untuk menyambut dan mengabadikan momen langka ini.
Warga tampak antusias memberikan dukungan, bahkan sebagian menyediakan air minum dan makanan ringan bagi para pejalan kaki adat tersebut.
“Saya dari Rangkasbitung. Setiap tahun selalu menunggu momen ini. Ini budaya yang patut dijaga, karena tak semua daerah punya tradisi sedalam ini,” ujar Wati (29), warga setempat yang hadir bersama keluarganya.
Sementara itu, pemerintah Kabupaten Lebak menyambut rombongan dengan pengamanan dan pengawalan tertib, sekaligus menyiapkan panggung penyambutan dan tempat peristirahatan di sekitar Pendopo.
Seba Baduy 2025 bukan hanya menjadi bentuk penghormatan warga Baduy terhadap pemerintah, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk menjaga warisan leluhur, mencintai alam, dan menghormati nilai-nilai hidup sederhana yang penuh makna.
Sebuah pesan bijak dari pegunungan, dititipkan kepada mereka yang tinggal di kota. (*/Sahrul).


