Singkong Gajah Bukan Sekadar Umbi, Tapi Masa Depan Ekonomi Petani Lebak

LEBAK – Di balik tanah gembur Desa Banjarsari, Kecamatan Warunggunung, tumbuh harapan baru bagi petani lokal: Singkong Gajah, tanaman super yang tak hanya menjanjikan hasil panen besar, tapi juga membawa impian petani menuju kemandirian ekonomi.
Rahmat, Kadis Distan Lebak, menyebut komoditas ini sebagai bagian dari strategi besar untuk mentransformasi sektor pertanian.
Dibudidayakan bersama Kelompok Tani Culeungsir, singkong gajah mampu memproduksi hingga 120 ton per hektare, dengan bobot per pohon mencapai 50 kilogram.
“Kami ingin petani tidak hanya sekadar bercocok tanam, tapi juga menjadi pelaku ekonomi yang tangguh. Singkong gajah memberi peluang itu,” kata Rahmat, Senin, (2/6/2025).
Pemerintah pun tak tinggal diam. Mulai dari pelatihan teknis, penyediaan pupuk hayati, hingga pendampingan intensif kini digencarkan.

Petani juga diarahkan untuk memahami proses pasca-panen agar mampu memproduksi olahan bernilai tambah seperti keripik, tepung, hingga bahan bioenergi. Dalam aspek teknis, singkong gajah membutuhkan perawatan yang cermat.
Tanah harus memiliki drainase baik, pemupukan tinggi kalium dilakukan rutin, serta pemangkasan cabang dilakukan untuk memaksimalkan umbi.
Panen ideal dilakukan antara bulan ke-7 hingga ke-9 setelah tanam.
“Kami juga sedang menjajaki kerja sama dengan industri pengolahan agar hasil panen petani punya harga jual yang layak dan stabil,” lanjutnya.
Singkong Gajah bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan bagian dari perubahan cara pandang.
Jika desa bisa menghasilkan pangan berkualitas tinggi, maka desa pula yang layak menjadi pusat kemajuan ekonomi. Dan Banjarsari telah memulainya. (*/Sahrul).

