Sosok Pengusaha Gula Merah di Lebak Jadi Kepala Desa
Bagi Jahid dunia politik merupakan hal yang baru dalam kehidupannya, apalagi menjadi seorang pejabat di instansi pemerintahan. Namun, amanah yang diembannya tak akan dijadikan sebagai beban hidup. Sebab hal itu mungkin bagian dari jalan untuk bisa membantu banyak orang.
Ia menyadari, Sang Maha Kuasa tidak akan memberikan suatu pekerjaan ataupun amanah di luar kemampuan hambanya. Mungkin saja, dengan cara inilah Jahid akan lebih mampu mengembangkan potensi diri yang dimilikinya.
Bagaimana tidak, anak pertama dari Nurhedi ini hanya tamatan sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara sekolah menengah pertama. Namun tak menampik akan bisa bersaing dalam melakukan pembangunannya demi kemajuan tanah kelahirannya.
“Mungkin Allah lebih tahu kemampuan seseorang. Ya, berbicara pendidikan saya hanya lulusan MTs doang. Tapi alhamdulillah, saya sudah mengikuti sekolah paket C. Jadi sekarang sudah punya ijazah SMA,” akunya.
Jahid kembali bercerita, awal mula ia terjun ke dunia politik yaitu melalui pencalonan kepala desa pengganti antar waktu (PAW) yang berlangsung pada Februari 2021 kemarin. Itupun berkat dorongan dari masyarakat.
Pada saat itu ada tiga calon (kandidat) yang ikut berkompitisi untuk mememperebutkan kursi kepala desa, antara lain Wawan Gunawan dengan perolehan 6 suara, Tohir dengan perolehan 19 suara. Sedangkan, Jahid mampu memperoleh 32 suara atau meraih suara tertinggi dari lawan politiknya.
“Karena di desa kami (Lebak Peundeuy) kepala desa (definitif) almarhum Pak Rohman meninggal dunia. Jadi diangkatlah Pjs (pejabat sementara) dari kecamatan. Setelah setahun barulah diadakan pemilihan PAW dengan sisa jabatan kurang lebih 8 bulan. Alhamdulillah, saya terpilih,” katanya. (*/M.Arifin)

