Tarian Tak Pantas di Acara SD Hebohkan Publik, Aktivis Desak Dindik Lebak Bertindak
LEBAK– Sebuah video berdurasi singkat yang menampilkan siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, sedang menari dengan gerakan yang dianggap tidak sesuai usia mereka dalam acara tasyakuran kenaikan kelas, memicu keresahan warganet dan masyarakat luas.
Rekaman yang terjadi di SD Negeri 1 Calungbungur itu langsung menyebar luas di media sosial.
Aksi tersebut sontak memunculkan kritik tajam dari berbagai kalangan, terutama dari pegiat perlindungan anak.
Salah satunya datang dari aktivis perempuan dan anak di Lebak, Siti Nuraeni, yang menilai kejadian itu sebagai cerminan lemahnya pengawasan orang dewasa terhadap perilaku anak-anak di lingkungan pendidikan.
“Tarian seperti itu tidak pantas diperagakan oleh anak usia Sekolah Dasar, apalagi di lingkungan sekolah dan di depan orang tua serta guru. Seharusnya ada yang menegur atau mencegah sejak awal,” ujar Siti kepada awak media, Senin (30/6/2025).
Aktivis Soroti Lemahnya Peran Orang Dewasa
Mantan Ketua HMI-Wati itu menegaskan bahwa pihak sekolah, orang tua, serta Dinas Pendidikan perlu melakukan evaluasi serius terhadap kegiatan yang melibatkan anak-anak, terutama yang diselenggarakan di sekolah.

“Kalau dibiarkan, anak-anak bisa kehilangan batas antara hiburan dan nilai kesopanan. Kita khawatir ini jadi kebiasaan dan dianggap wajar. Padahal, mereka masih dalam tahap tumbuh kembang yang sangat rentan terhadap pengaruh luar,” tegasnya.
Aen, sapaan akrab Siti, juga menyoroti peran media sosial yang kini menjadi referensi banyak anak dalam meniru gaya hidup yang belum sesuai dengan usia mereka.
“Media sosial berpengaruh besar terhadap pola pikir dan perilaku anak-anak. Jangan sampai anak-anak hanya dijadikan tontonan viral tanpa ada pembinaan. Guru dan orang tua wajib terlibat aktif dalam pengawasan,” tambahnya.
Pemkab Diminta Tidak Tutup Mata
Lebih jauh, Aen mendesak Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Pendidikan agar tidak tinggal diam melihat fenomena ini.
Ia mendorong adanya panduan kegiatan sekolah yang lebih ramah anak dan menanamkan nilai-nilai edukatif serta budaya lokal.
“Kita tidak hanya butuh klarifikasi, tapi tindakan konkret agar kejadian seperti ini tidak terulang. Pemkab harus hadir melindungi masa depan anak-anak Lebak,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak. (*/Sahrul).


