Tokoh Aktivis Lebak Kritik Mahasiswa yang Dinilai Kehilangan Kesadaran Kritis

LEBAK – Aktivis sosial di Kabupaten Lebak memberikan kritik tajam terhadap kalangan mahasiswa yang dianggap mulai kehilangan kesadaran kritisnya.
Menurutnya, saat harga kebutuhan pokok terus merangkak naik dan sejumlah kebijakan pemerintah dinilai tidak berpihak kepada rakyat kecil, mahasiswa justru terlihat diam seribu bahasa.
Seorang aktivis yang telah lama berjuang untuk hak-hak masyarakat di Lebak, Muhamad Apipi menyoroti sikap mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan dalam masyarakat.
“Kami sangat prihatin dengan posisi mahasiswa saat ini. Dalam situasi di mana banyak kebijakan yang merugikan rakyat kecil, terutama di tengah kenaikan harga barang dan bahan pokok, mahasiswa justru terkesan enggan untuk bersuara,” ujar Apipi dengan nada kecewa, Senin (3/2/2025).
Budi menilai, mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai kelompok yang kritis terhadap kebijakan pemerintah dan yang sering memperjuangkan hak-hak masyarakat, kini tampak lebih fokus pada urusan akademis mereka tanpa memperhatikan keadaan sosial-ekonomi yang berkembang pesat di sekitar mereka.
“Kami memahami bahwa mahasiswa juga memiliki kesibukan belajar, namun dalam menghadapi isu-isu besar seperti kebijakan yang merugikan rakyat kecil, mereka tidak boleh diam begitu saja. Tugas mereka sebagai intelektual adalah turut berperan aktif dalam perubahan sosial,” terangnya.

Salah satu kebijakan yang dimaksud oleh Apipi adalah kebijakan distribusi gas elpiji bersubsidi yang baru-baru ini diberlakukan, yang menurutnya malah semakin mempersulit masyarakat kecil yang sudah kesulitan menghadapi inflasi.
“Mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Mereka seharusnya lebih vokal, bukan malah terjebak dalam zona nyaman mereka,” ungkapnya.
Kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus berlangsung juga menjadi sorotan utama. Mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan dasar seperti bahan bakar dan gas elpiji, harga yang semakin melambung tinggi kian memberatkan beban masyarakat.
“Ketika harga terus meningkat, rakyat biasa yang sudah susah kini semakin terpuruk. Mahasiswa seharusnya tidak hanya duduk diam di ruang kelas, tapi turun ke lapangan dan menyuarakan aspirasi rakyat,” tegas Apipi.
Lebih lanjut, Apipi juga mengingatkan agar mahasiswa jangan hanya menjadi pengamat, tetapi harus berperan aktif dalam mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Menurutnya, dalam sejarahnya, mahasiswa selalu menjadi pilar penting dalam pergerakan sosial di Indonesia.
“Ini adalah momen bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa mereka peduli dengan keadaan sosial yang ada, bukan hanya berfokus pada akademik semata,” tutupnya. (*/Sahrul).


