Wisata Anyer

Tragis! Korban Gigitan Ular di Lebak Meninggal Dunia, Keluarga Soroti Pelayanan RSUD Adjidarmo

 

LEBAK – Peristiwa tragis menimpa seorang warga di Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak. Seorang pria bernama Judil (50), warga Kampung Dalung, Desa Sangiang Tanjung, meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami gigitan ular saat berada di kebunnya.

Informasi yang dihimpun dari keluarga korban, kejadian bermula ketika Judil pergi ke kebun yang berada tidak jauh dari rumahnya pada Jumat siang.

Saat berada di area kebun, korban tanpa sengaja menginjak pelapah kelapa yang tergeletak di tanah. Awalnya ia mengira kakinya hanya terkena duri atau benda tajam biasa.

Namun ketika mencoba memastikan dengan tangannya, ternyata seekor ular tanah menyengatnya.

Korban sempat melakukan perlawanan hingga ular tersebut berhasil dimatikan.

Dalam peristiwa itu, korban diduga mengalami beberapa luka gigitan, yakni di bagian kaki dan tangan.

Saudara korban, Yahi, menceritakan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.

Setelah sempat mendapatkan penanganan awal di rumah, keluarga kemudian membawa korban ke rumah sakit pada sore hari.

“Korban digigit sekitar jam dua siang. Setelah diupayakan penanganan di rumah, sekitar jam lima lewat dibawa ke rumah sakit dan sampai di UGD sekitar jam setengah enam sore,” kata Yahi kepada wartawan, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, saat tiba di instalasi gawat darurat, keluarga berharap korban bisa segera mendapatkan penanganan khusus berupa obat anti bisa ular.

Namun, keluarga mengaku hanya mendapatkan penanganan berupa infus.

“Kami minta agar segera diberikan obat anti bisa ular, tapi katanya tidak ada. Bahkan sempat ingin membeli sendiri juga tidak diperbolehkan,” ujarnya.

Selain itu, pihak keluarga juga mengaku sempat kesulitan mendapatkan ruang perawatan bagi korban. Kondisi tersebut membuat keluarga semakin cemas karena keadaan Judil saat itu sudah semakin melemah.

“Korban sudah tidak berdaya, tapi belum juga mendapat ruangan. Kami sempat menunggu cukup lama,” lanjut Yahi.

Ia menambahkan, korban baru mendapatkan ruang perawatan sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah itu barulah korban mendapatkan penanganan lanjutan, termasuk pemberian obat anti bisa ular.

“Yang membuat kami bingung, sebelumnya dikatakan tidak ada obatnya. Tapi setelah itu justru diberikan,” ungkapnya.

Korban kemudian menjalani perawatan hingga malam hari. Namun kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu sore sekitar waktu Asar.

Keluarga mengaku sangat terpukul atas kepergian Judil. Meski menyadari bahwa kehidupan dan kematian merupakan ketentuan Tuhan, mereka tetap menyayangkan proses pelayanan yang dinilai lambat dan berbelit.

“Kami tentu sedih dan kecewa. Kalau saja penanganannya bisa lebih cepat, mungkin hasilnya bisa berbeda. Tapi kami juga menyadari semuanya sudah menjadi takdir,” kata Yahi.

Ia berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan medis darurat.

“Kami hanya berharap ke depan pelayanan bisa lebih cepat dan tanggap, apalagi untuk kondisi darurat seperti ini. Supaya kejadian seperti yang dialami saudara kami tidak terulang pada orang lain,” pungkasnya. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien