Viral Video Dugaan Intimidasi Petani Cikulur Lebak, Keamanan PT Cibiuk Buka Suara

 

LEBAK– Sebuah video yang menampilkan anggota keamanan diduga melakukan intimidasi dan mengacungkan golok saat bersitegang dengan para petani di Kampung Pasir Kaweni, Desa Muara Dua, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, pada Sabtu (12/7/2025) viral di media sosial.

Peristiwa yang disebut-sebut terjadi di area perkebunan PT Cibiuk tersebut menuai sorotan publik dan memicu berbagai spekulasi.

Pihak keamanan perusahaan pun angkat bicara untuk meluruskan kejadian sebenarnya.

Salah satu petugas keamanan yang diketahui bernama Jaya yang viral dalam video tersebut menegaskan bahwa tidak ada tindakan premanisme yang dilakukan oleh pihaknya.

Menurut pengakuannya, insiden itu bermula saat salah seorang warga, berinisial E, diduga hendak mencabut golok saat terjadi adu argumen terkait penanaman di lahan perkebunan.

“Waktu itu kami hanya melerai, karena ada dugaan penanaman yang bersifat permanen di lahan perusahaan. Kalau tanaman jangka pendek, silakan saja, kami tidak melarang. Tapi saudara E saat itu terlihat setengah mencabut goloknya, lalu saya kejar karena khawatir terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” jelas Jaya, Jumat Rabu (23/7/2025).

Ia menekankan bahwa golok yang tampak dalam video bukan miliknya, melainkan milik saudara E yang kemudian diamankan olehnya untuk mencegah potensi kekerasan.

“Saya hanya mengamankan golok itu, bukan untuk mengancam. Bahkan kalau videonya lengkap, akan terlihat bahwa saya tidak menarik golok dari pinggang saya. Saya hanya berjaga agar tidak terjadi pembacokan atau bentrok,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jaya menyebut bahwa saat itu tim keamanan PT Cibiuk yang turun ke lokasi berjumlah sekitar 20 orang.

Mereka datang ke lokasi atas perintah perusahaan untuk menertibkan area yang diduga mulai digunakan untuk penanaman tanaman jangka panjang oleh warga.

“Kami ini sudah puluhan tahun bekerja di sana. Jadi saat perusahaan minta pengamanan, kami turun. Tapi kami tidak pernah melakukan pemukulan, apalagi kekerasan. Tidak ada satu pun warga yang dipukul,” kata Jaya menampik tudingan premanisme.

Mengenai dugaan adanya pengrusakan tanaman dan pos petani, Jaya mengaku tidak melihat secara langsung siapa yang melakukan.

Ia menduga situasi yang ramai dan memanas antara petani dan petugas keamanan membuat kondisi menjadi tidak terkendali.

“Saya sendiri tidak lihat siapa yang rusak tanaman. Tapi saya tegaskan, kalau pun ada pencabutan, itu hanya pada tanaman jangka panjang seperti kelapa atau pisang. Tanaman jangka pendek seperti jagung tidak kami ganggu,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa perusahaan justru merasa dirugikan akibat sejumlah pohon milik mereka yang diduga dibakar oleh pihak tak dikenal.

Terkait pengambilan golok milik warga yang diamankan oleh pihak keamanan, Jaya menjelaskan bahwa hal itu dilakukan demi alasan hukum.

“Saudara E sempat meminta goloknya dikembalikan. Tapi saya bilang, nanti dulu. Takut suatu saat nanti akan ada proses hukum biar ini jadi bukti dan diserahkan kepada pihak berwajib. Kami juga langsung datang ke polsek setelah kejadian untuk memberikan keterangan,” tandasnya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian setempat terkait dugaan pengrusakan ataupun kepemilikan senjata tajam di lokasi tersebut.

Dalam berita sebelumnya, Pagi itu masih lengang. Eep Julat, 47 tahun, baru saja menancapkan batang pisang di tanah merah kebun garapannya di Kampung Pasir Kaweni, Desa Muara Dua, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. Udara segar belum genap ia hirup, saat dari kejauhan terdengar derap langkah dan suara gaduh.

Waktu menunjuk pukul 08.00 WIB, Sabtu, 12 Juli 2025, ketika puluhan pria tak dikenal muncul dari arah barat kebun. Jumlah mereka diperkirakan mencapai seratus orang. Hampir semuanya membawa senjata tajam: golok, parang, dan kelewang.

“Saya sedang nanam, tiba-tiba mereka datang. Ribut-ribut, bawa golok, langsung rusak tanaman kami,” ujar Eep saat ditemui Rabu, 16 Juli 2025.

Kekacauan meletus seketika. Tanaman pisang, singkong, jagung, kelapa, bahkan kacang-kacangan dibabat habis. Tak hanya itu, empat gubuk sederhana yang biasa dipakai petani beristirahat, ikut dirobohkan.

Menurut kesaksian sejumlah petani lain, para pria itu bukan hanya merusak, tapi juga diduga melontarkan ancaman.

Dalam video amatir berdurasi 1 menit 45 detik yang beredar luas di media sosial, tampak seorang pria dari kelompok tersebut diduga mengacungkan parang sambil berteriak menantang. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien