Iklan Banner

Wayang Golek Sindir Judi Online, Warga Terhibur di Tengah Sakralnya Seba Baduy di Lebak

 

LEBAK– Di tengah sakralnya perayaan Seba Baduy 2025, tawa dan tepuk tangan menggema dari sudut Alun-alun Rangkasbitung saat pagelaran wayang golek Milangkala Sumedang Larang digelar Sabtu malam.

Ribuan warga tampak larut dalam alur cerita yang tak hanya menghibur, tetapi juga menyentil isu-isu hangat, salah satunya soal maraknya judi online.

Panggung sederhana dengan kelir merah menjadi titik perhatian masyarakat yang memadati area terbuka kota. Anak-anak duduk di pangkuan orang tuanya, remaja bersandar di pagar, sementara para orang tua menyimak jalannya pertunjukan dengan mata berbinar.

“Ini bukan sekadar hiburan, tapi sekaligus pengingat. Dalang menyampaikan kritik dengan cara halus tapi mengena,” ujar Venus warga Rangkasbitung yang menyaksikan lakon wayang, pada Sabtu (3/5/2025).

Dalam salah satu adegan, tokoh punakawan melontarkan guyonan pedas soal fenomena judi online yang merambah kalangan muda.

Dalang menyinggung bagaimana gawai tak lagi sekadar alat komunikasi, tapi bisa menjadi sumber bencana jika digunakan untuk hal yang salah.

Agil HUT Gerindra

Sontak penonton tertawa, sebagian mengangguk paham. Di tengah hiburan rakyat, pesan moral tersampaikan dengan cerdas tanpa menggurui.

Pagelaran ini merupakan bagian dari rangkaian acara Milangkala Sumedang Larang yang beriringan dengan Seba Baduy sebuah prosesi adat tahunan yang mempertemukan masyarakat Baduy dengan pemerintah sebagai simbol harmoni dan penghormatan kepada leluhur.

Venus menambahkan, kehadiran wayang golek di momentum ini memberi keseimbangan antara nilai-nilai sakral Seba dan semangat hiburan yang mencerdaskan.

“Kita tidak bisa hanya fokus pada seremoni adat. Rakyat juga butuh ruang ekspresi yang menyenangkan, tapi tetap mendidik,” katanya.

Di balik cerita pewayangan malam itu, tergambar wajah masyarakat yang rindu pada hiburan berkualitas, sekaligus refleksi terhadap kondisi sosial yang mereka hadapi sehari-hari.

Menjelang tengah malam, ketika kelir mulai dilipat dan gamelan berangsur senyap, warga pulang membawa lebih dari sekadar tontonan.

Mereka pulang dengan senyum, tawa, dan pesan diam-diam yang diselipkan sang dalang bahwa hidup harus dijalani dengan akal sehat, dan tradisi adalah rumah bagi suara hati nurani. (*/Sahrul).

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien