Wisata Anyer

Ceramah di ITB, Rocky Gerung Tantang Akademisi Uji Konsep ‘Prabowonomics’

 

BANDUNG – Pengamat politik Rocky Gerung atau RG menantang kalangan akademisi untuk menguji secara metodologis gagasan ekonomi “Prabowonomics”.

Tantangan ini disampaikan Rocky Gerung dalam acara peluncuran buku “Menggugat Republik” karya Syahganda Nainggolan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (5/3/2026).

Dalam acara yang diselenggarakan Great Institute itu, Rocky Gerung mengatakan istilah Prabowonomics mulai memunculkan percakapan akademik karena dianggap mengandung metodologi dan ideologi tertentu dalam ekonomi politik.

“Kita bicara tentang Prabowo. Saya tidak pernah tahu apa pikiran Prabowo sampai akhirnya dia sinopsiskan dalam istilah Prabowonomics. Maka timbul percakapan akademis,” kata Rocky.

Menurut Rocky, ketika sebuah konsep ekonomi sudah diberi nama, maka ia otomatis menjadi genre dalam diskursus ilmu ekonomi dan harus diuji secara akademik.

“Begitu disebut Prabowonomics, orang berpikir ada metodologi di situ, ada ideologi di situ. Tugas intelektual adalah membongkar secara metodologi,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rocky Gerung juga menyinggung struktur ekonomi Indonesia yang menurutnya sudah digariskan dalam konstitusi.

Ia menyebut ada tiga pilar utama dalam sistem ekonomi nasional, yaitu korporasi, badan usaha milik negara (BUMN), dan koperasi.

Ia menjelaskan korporasi berfungsi untuk akumulasi ekonomi, BUMN untuk menghimpun kekuatan demi kemandirian ekonomi nasional, dan koperasi untuk membangun solidaritas sosial.

Menurut Rocky, konsep ekonomi yang dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat solidaritas sosial dalam kerangka ekonomi nasional.

Rocky Gerung juga menyoroti kondisi ruang publik yang menurutnya kini semakin dipengaruhi oleh buzzer, influencer, dan algoritma media sosial.

Menurutnya, republik seharusnya menjadi ruang penggunaan nalar publik atau public use of reason, tempat masyarakat berdiskusi secara rasional mengenai kepentingan bersama.

“Republik dirancang supaya ada percakapan. Tetapi hari-hari ini komunikasi politik dikuasai buzzer, influencer, dan algoritma,” kata Rocky.

Acara peluncuran buku Menggugat Republik tersebut dihadiri oleh akademisi, mahasiswa, dan sejumlah tokoh yang datang untuk mendiskusikan gagasan politik dan ekonomi yang berkembang di Indonesia.***

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien