Konflik Rusia-Ukraina, Yuddy Chrisnandi: Mari Dukung Pemerintah Indonesia yang Cinta Damai

JAKARTA – Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Ukraina Professor Yuddy Chrisnandi mengajak seluruh masyarakat Indonesia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia yang turut andil dalam menyuarakan perdamaian dunia, terutama dalam tragedi Ukraina.
Yuddy menilai kebijakan Pemerintah atas tragedi perang Rusia dengan Ukraina sudah tepat.
“Kita beri apresiasi dan hargai langkah Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, yang cinta damai. Sikap kita berada dalam akal sehat dunia, kita mengutuk dengan keras invasi Rusia terhadap Ukraina,” ujar Professor Yuddy saat menjadi pembicara dalam Malam Peringatan HUT Ke-5 Tahun Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Jakarta, Senin (7/3/2022).
Yuddy menyebut langkah Pemerintah Indonesia sudah tepat setelah menjadi bagian dari 141 negara yang menyetujui resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mendesak Rusia menghentikan serangannya ke Ukraina. Resolusi ini disahkan dalam sesi darurat Majelis Umum PBB yang diadakan Rabu (2/3/2022).
“Kita mengutuk dengan keras, tanpa syarat meminta Rusia menarik segera (pasukannya) dari Ukraina karena hal itu melanggar piagam PBB, norma, juga melanggar ketentuan untuk menyelesaikan permasalahan secara damai,” tegas Yuddy.
“Hanya 5 negara yang menjadi pendukung Rusia, dan 35 negara yang bingung atau abstain. Semoga SMSI ini bukan bagian dari yang bingung ini bersama 35 negara itu,” ujar Prof Yuddy.
Diakuinya, sejak menjadi Dubes Ukraina dari tahun 2017, Yuddy menilai Ukraina merupakan negara yang indah, ramah dan tidak menunjukkan suatu bahaya sama sekali, tidak ada ancaman untuk terjadi perang.

“Banyak sekali saya kenal orang-orang di sana dari Presiden sekarang Zelensky, sebelumnya Presiden Petro Poroshenko, sampai pedagang-pedagang di pasar. Mereka sangat damai tidak menginginkan peperangan atau suatu konfrontasi,” jelas Yuddy.
“Masyarakat Ukraina seperti di Indonesia sangat toleran, di sana agama mayoritas Kristen Ortodoks. Umat Islam hanya sekitar 1 persen, tapi diberi tanah untuk bangun universitas dan masjid, bahkan setiap minggu ada yang berbondong-bondong masuk Islam. Kristen Katolik dan Protestan juga diberi kebebasan,” imbuhnya.
Yuddy juga menegaskan bahwa Pemerintah Ukraina sangat ramah terhadap pengusaha.
“Transaksi perdagangan waktu awal saya masuk hanya 720 miliar dolar AS naik menjadi 1,3 miliar dolar AS selama empat tahun,” jelasnya lagi.
Karena itu, Yuddy meminta SMSI sebagai organisasi yang menghimpun perusahaan media bisa turut andil dalam menjaga perdamaian, melalui pemberitaan yang berdasarkan fakta.
“Pemberitaan media Siber saat ini sangat strategis dalam proxy war. Bagaimana SMSI mampu jadi institusi perlawanan terhadap hoax yang luar biasa saat ini. SMSI juga bisa menjadi bagian dari Pertahanan Siber, khusunya dari pemberitaan-pemberitaan yang merugikan,” tegas Yuddy.
Selain Yuddy Chrisnandi, selaku Wakil Ketua Dewan Pakar SMSI, turut hadir juga sejumlah tokoh diantaranya Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun, Brigjend TNI Iroth Sonny Edhie yang menjabat sebagai Komandan Pusat Sandi dan Siber TNI-AD, hadir mewakili KASAD Jenderal Dudung Abdurachman.
Hadir juga Budiman Sudjatmiko sebagai Ketua Dewan Pertimbangan SMSI yang memaparkan konsep dan ekosistem Metaverse Nusantara yang saat ini digagas Bukit Algoritma bersama SMSI. Serta turut hadir memberikan dukungan Direktur Bank Banten, Agus Syabarrudin. (*/Red)

