Oleh: Bella Rusmiyanti (Pegiat PATTIRO Banten)
Kalau Banten itu manusia, mungkin sekarang dia lagi duduk di pinggir jalan, ngeliatin langit sore sambil overthinking: “Gue siapa sih? Mau kemana? Mau jadi apa? Apa yang sebenarnya gue cari?”
Ya, begitulah kira-kira. Banten baru saja merayakan ulang tahun yang ke-25 di tahun ini. Sama seperti anak muda lulusan fresh graduate yang baru lepas dari zona nyaman kampus, Provinsi yang berdiri sejak 2000 ini sedang mengalami fase paling rumit dalam hidupnya: quarter life crisis.
Di usia segini, harusnya udah nemu jati diri, kan? Harusnya udah tau mau jadi apa. Tapi nyatanya? Banten masih galau berat.
Coba deh bayangin teman kamu yang umur 25 tahun, di Instagram feed-nya keliatan glow up banget foto di kafe estetik, caption motivasi, bikin orang lain iri. Tapi pas ketemu, dia curhat panjang lebar soal tagihan pay letter, bingung mau resign atau nggak.
Nah, Banten kayak gitu.
Dari luar, Banten keliatan keren. Punya kawasan industri Cilegon yang jadi tulang punggung ekonomi nasional. Ada Tangerang yang hipster abis dengan mall, startup, sampai coworking space di mana-mana.
Tapi pas dikulik lebih dalam? Angka pengangguran terbuka masih 6,68% di tahun 2024 menjadi salah satu yang tertinggi di Pulau Jawa.
Pendidikan? Rata-rata lama sekolah cuma 9,23 tahun, alias baru lulus SMP. Udah mah cuma sampai SMP, 1 dari 6 siswa di Banten tidak punya akses toilet, nahan BAB dan BAK.
Tapi, jangan salah, ada “prestasi” juga: tunjangan pejabatnya yang lebih tinggi daripada tetangga sebelah. Sementara rakyatnya masih bergulat dengan masalah dasar seperti pendidikan dan sanitasi, para elite malah sibuk atur paket remunerasi yang bikin iri provinsi lain.
Ini tuh kayak anak 25 tahun yang hustling mati-matian tapi nggak pernah punya planning jangka panjang. Kerjaannya jalan, tapi gak sustain. Sibuk, tapi gak produktif. Gerak, tapi gak maju-maju.
Kayak anak 25 tahun yang sering insecure lihat pencapaian teman-temannya, Banten pun kadang minder dibanding provinsi tetangga.
Jawa Barat? Udah punya branding “West Java is My Inspiration” yang kuat, wisata Bandung aja udah legend. Jawa Tengah dan Yogyakarta? Budaya dan pariwisatanya solid banget, identitasnya jelas. DKI Jakarta? Ya, dia si anak emas yang semua orang udah kenal.
Terus… Banten?
“Gue provinsi industri, apa provinsi pariwisata? Atau provinsi budaya? Atau cuma jadi sektor penyangga DKI doang?”
Kebingungan identitas ini nyata banget. Banten punya Baduy yang unik, punya pantai-pantai cantik kayak Anyer dan Tanjung Lesung, punya Benteng Speelwijk yang penuh sejarah, punya kuliner khas seperti sate bandeng.
Tapi semua itu masih underrated. Turis domestik lebih milih Bali atau Jogja. Investor lebih lirik Jawa Timur atau Jawa Barat. Ini tuh kayak anak muda yang sebenarnya talented, tapi nggak tau cara nge-branding diri.
Akhirnya, orang lain yang lebih “berisik” malah dilirik duluan.
Di usia 25, banyak anak muda yang mulai ngerasa stuck antara ekspektasi masa lalu dan kenyataan masa depan. Banten juga begitu. Masa lalunya berat.
Pemekaran dari Jawa Barat pada tahun 2000 itu penuh dengan kepentingan politik. Ada warisan korupsi, nepotisme, dan ketimpangan pembangunan yang masih terasa sampai sekarang.
Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Banten masih rendah, tata kelola pemerintahan masih carut-marut. Ini kayak trauma masa lalu yang bikin susah move on.
Tapi di sisi lain, Banten punya potensi luar biasa untuk masa depan. Dengan lebih dari 12 juta penduduk, mayoritas di usia produktif, ini adalah bonus demografi yang seharusnya jadi aset.
Mayoritas pelaku UMKM di Banten dikelola perempuan “girl power yang jarang disorot. Ekonomi digital mulai merambah, terutama di Tangerang dan Serang.
Masalahnya? Banten sering burn out sendiri. Mau digitalisasi tapi infrastruktur belum merata. Mau kembangkan pariwisata tapi promosi setengah hati.
Mau kejar industri hijau tapi masih tergantung sama industri konvensional yang polusinya bikin sesak napas. Industri hijau katanya, tapi produksi tani malah melorot 47,63%. Gimana mau hijau kalau sektor pertaniannya sendiri malah anjlok?
Ini kayak anak 25 tahun yang pengen healing tapi gak ada waktu buat istirahat, karena harus terus hustle. Jadinya? Kelelahan yang berujung kebingungan.
Quarter life crisis itu sebenarnya bukan masalah. Itu justru momentum. Di usia 25, kamu berhak buat bingung, berhak buat salah, berhak buat nyoba-nyoba. Tapi juga, di usia inilah kamu harus mulai menentukan: siapa aku, dan mau ke mana aku?
Banten sekarang ada di titik itu. Dia punya masalah, ya. Tapi dia juga punya kesempatan besar untuk menata ulang. Belajar dari masa lalu, ambil pelajaran dari provinsi lain, dan yang paling penting: berani menentukan jalannya sendiri.
Mungkin Banten nggak akan langsung jadi provinsi paling maju besok. Mungkin butuh waktu 10 tahun, 20 tahun, atau lebih. Tapi yang penting adalah sekarang di usia 25 ini Banten harus mulai commit ke satu arah.
Mau jadi provinsi industri hijau? Gas. Mau jadi destinasi wisata budaya? Oke, konsisten. Mau jadi pusat inovasi digital? Sikat, tapi serius. Karena kalau nggak sekarang, kapan lagi?
“It’s okay to be confused. It’s okay to feel stuck. Tapi jangan sampai kamu cuma diem di tempat. Kamu punya potensi luar biasa. Kamu punya generasi muda yang siap berjuang. Kamu punya waktu untuk berubah.
Jadi, mulai sekarang, tentukan jalanmu. Karena quarter life crisis bukan akhir dari segalanya ini justru awal dari kedewasaan.” (***)


