Gibran dan Menyan
Oleh: Sunano
Seandainya, Gibran saat menyampaikan menyan jadi bahan winyak wangi Gucci dan LV, sambil menghisap lisong, tentu lain cerita.
Bahkan WS Rendra, dengan menikmati sebatang lisong, rokok dari kelembak menyan, mampu menciptakan puisi yang sangat luar biasa. “Sajak Sebatang Lisong”.
Apalagi seandainya Gibran juga sembari mendemonstrasikan puisinya Rendra,
Sajak Sebatang Lisong
Menghisap sebatang lisong,
melihat Indonesia Raya,
Mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka.
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Tentunya, suasana acara pembekalan kepemimpinan Lembaga Ketahanan Nasional di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat yang dipublikasikan lewat siaran video Sekretariat Wakil Presiden pada Senin, 14 Juli 2025 jadi berasa lain.
Gibran juga terus bersemangat mengkampanyekan menyan tidak hanya untuk dukun, seperti di Green Impact Festival 2025 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis, 24 Juli 2025.
“Gara-gara ini” dengan semangat, Gibran berdemonstrasi mengangkat sebatang lisong. “Bangsa Belanda menjajah Indonesia 350 tahun.” Mengikuti gaya Haji Agus Salim.
Menyan, setelah Gibran menyinggungnya, tiba-tiba kembali naik daun.
Tidak hanya dikenal orang orang Jawa bagian selatan khususnya yang digunakan untuk campuran rokok kelembak menyan, “lisong”.
Atau digunakan oleh orang-orang yang mau ke kuburan, nyekar dengan membakar menyan. Lisong mewakili suara rakyat jelata, kelas bawah.

Ini dugaan saya, sepanjang penelusuran, Agus Salim ketika membakar rokok kretek di acara penobatan Ratu Inggris Elizabeth II, sampai membuat heboh forum.
Tapi rokok kretek dan cerutu kan bau asapnya sudah familier di Eropa yang berasal dari Deli, Sumatera Utara. Yang mungkin membuat heboh adalah Agus Salim membakar rokok menyan. Yang akan membuat heboh orang 1 ruangan.
Rokok kelembak menyan ini tahun 1948, sudah massif di produksi, khususnya di daerah Gombong, Jawa bagian selatan, Yogyakarta dan Magelang.
Menyan ternyata adalah komoditi sangat tua yang dikenal dari Indonesia selain barus. Dalam buku “Lobu Tua Sejarah Awal Barus” karya Claude Guillot, menjelaskan salah satu komoditi penting barus, selain kamper adalah menyan.
Sejak lama sekali, menyan sudah diperdagangkan untuk minyak wangi di pasar Cina (_an-his-hsiang_), Timur Tengah, dan Eropa dikenal dengan luban jawi.
Menyan awalnya dikenal sebagai dupa, wewangin oleh semua agama besar. Akrab dengan kehidupan sehari-hari, dalam prosesi kelahiran, sunatan, perkawinan, dan kematian.
Oleh wanita di dunia arab, kemenyan digunakan untuk mengharumkan tubuhnya. Memang awalnya dikenal dengan metode pengasapan.
Baru mulai Abad-19, wanita di Cina menggunakan minyak kemenyan untuk mewangikan tubuh dan rambutnya.
Pemanfaatan ini terus berkembang di Cina, Arab, dan Eropa. Fungsinya untuk obat-obatan, industri minyak wangi, dan industri makanan.
Kritik Gibran memang tepat. Di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara daerah Dairi, Pakpak, dan Tapanuli Utara, hanya diambil getahnya dan dikirim ke penampungan dalam bentuk kemenyan mentah. Industri pengolahan sama sekali belum tumbuh.
Hilirisasi produk hutan, produk alam Indonesia memang masih terbatas sekali. Seperti minyak tengkawang, minyak yang dihasilkan dari pohon meranti merah, tanaman khas Kalimantan Barat, hanya diproduksi untuk mentega. Padahal oleh industri Cina, minyak tengkawang menjadi bahan baku utama kosmetik bernilai sangat tinggi.
Dengan membawa identitas menyan, dan membacakan “Sajak Sebatang Lisong”, Gibran bisa berbicara tidak hanya persoalan hilirisasi, juga masalah pendidikan dengan kualitas rendah dan perlu banyak dibenahi, masa depan pengangguran sarjana, dan problem pertumbuhan industri kreatif anak muda. Gibran sebagai wakil Gen-Z, perlu memposisikan diri mendorong manfaat bonus demografi.
Jakarta, 25 Agustus 2025


