Iklan Banner

Mengapa Algoritma Platform Digital Pro-Zionis Israel dan Anti-Islam

Pandeglang Gerindra HUT

 

Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa

Di era dominasi informasi digital, algoritma menjadi aktor tak kasat mata yang mengatur arus informasi global. Ironisnya, algoritma yang seharusnya netral dan objektif, kini menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan, pro-Zionis Israel dan anti-Islam.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi atau teori konspirasi, tetapi gejala sistemik yang dapat dilacak melalui praktik moderasi konten, kebijakan perusahaan teknologi, serta jejak digital dari perusahaan-perusahaan raksasa Silicon Valley.

1. Bias Struktural Siapa yang Mengendalikan Algoritma?

Platform digital global seperti Facebook (Meta), Google (YouTube), Instagram, TikTok, dan X (Twitter) didominasi oleh perusahaan-perusahaan yang berada di bawah pengaruh kuat lobi pro-Israel di Amerika Serikat.

Banyak tokoh penting dalam jajaran direksi atau penasihat perusahaan teknologi besar diketahui memiliki afiliasi ideologis, politik, atau ekonomi dengan agenda Zionisme internasional.

Beberapa bahkan secara terang-terangan menyumbang untuk kampanye-kampanye pro-Israel.

Tak mengherankan jika narasi tentang Palestina atau perjuangan Muslim yang tertindas acapkali dibungkam oleh sistem “moderasi otomatis” — yang sejatinya merupakan algoritma yang dilatih untuk mengenali, membatasi, atau menghapus konten yang dianggap “berbahaya” oleh kriteria Barat.

Di sisi lain, konten yang mendukung Israel, bahkan yang menyebar disinformasi atau kebencian terhadap Muslim, justru mendapatkan tempat luas di berbagai platform.

2. Moderasi Konten adalah Sensor Politik

Dalam laporan tahunan oleh organisasi seperti Human Rights Watch dan Electronic Frontier Foundation, ditemukan bahwa platform seperti Facebook dan Instagram seringkali secara sepihak menghapus konten pro-Palestina, memblokir akun jurnalis Muslim, atau menurunkan visibilitas (shadow banning) atas isu-isu yang dianggap “sensitif”, padahal hanya menyuarakan fakta tentang penjajahan, kekerasan, atau apartheid digital di Palestina.

Sebaliknya, akun-akun yang terang-terangan menyebar Islamofobia, menyudutkan umat Islam dengan label ekstremisme, atau mendukung aksi militer Israel seringkali dibiarkan begitu saja — bahkan mendapatkan jangkauan luas dan diperkuat algoritma.

3. Penggiringan Persepsi dan Perang Informasi

Zionisme modern memahami satu hal penting: pertempuran hari ini bukan hanya di tanah Gaza atau Tepi Barat, tapi juga di ruang digital. Di media sosial, “kemenangan” dicapai lewat pengendalian narasi.

Agil HUT Gerindra

Dengan algoritma sebagai senjata, platform digital menjadi arena penggiringan persepsi publik.
Islam, khususnya Islam politik atau gerakan keadilan sosial yang diilhami nilai-nilai Islam, sering dicitrakan sebagai ancaman.

Algoritma mengarahkan pengguna ke konten yang memperkuat prasangka, mendorong polarisasi, dan menebar ketakutan terhadap simbol-simbol Islam. Dalam ekosistem seperti ini, algoritma tak lagi menjadi alat, melainkan medan perang ideologis.

4. Normalisasi Islamofobia Global

Isu algoritma pro-Israel bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari normalisasi Islamofobia yang meluas di dunia Barat. Setelah peristiwa 9/11, dunia barat secara sistematis membangun narasi bahwa Islam adalah terorisme.

Narasi ini kemudian dimasukkan ke dalam logika algoritma platform digital — yang secara statistik memang dilatih berdasarkan “engagement” tertinggi, dan sayangnya, konten yang penuh kebencian atau prasangka justru paling tinggi keterlibatannya.

Maka, secara otomatis, algoritma mengutamakan konten anti-Islam karena dianggap lebih “menjual”, tanpa memperhatikan akurasi atau keadilan informasi.

5. Platform sebagai Alat Kolonialisme Baru

Ketika Palestina dibungkam secara militer, umat Islam di belahan dunia lain dibungkam secara digital. Dunia Islam bukan hanya kehilangan akses pada media mainstream, tetapi juga dibatasi dalam mengakses dan menyebarkan narasi mereka sendiri. Ini adalah bentuk kolonialisme digital — di mana akses, suara, dan representasi dikendalikan oleh kekuatan algoritmik yang tunduk pada ideologi dominan.

Penutup
(saatnya membangun perlawanan digital)

Umat Islam tidak bisa lagi memandang platform digital sebagai ruang bebas nilai. Ini adalah medan jihad informasi, tempat kebenaran harus diperjuangkan dengan cerdas dan strategis. Kita butuh:

1. Platform alternatif berbasis nilai Islam dan keadilan global.

2. Kekuatan kolektif untuk melawan sensor digital

3. Kesadaran digital kritis agar umat tidak terjebak dalam narasi yang diproduksi oleh musuh.

4. Sejarah menunjukkan, setiap bentuk penjajahan, termasuk penjajahan algoritmik, akan ditumbangkan oleh kekuatan kebenaran dan ketekunan perjuangan. Dan umat Islam Indonesia, sebagai mayoritas terbesar Muslim di dunia, punya peran strategis untuk memulai gelombang digital baru yang membebaskan.

*“Barang siapa yang tidak menguasai media, maka dia akan dikuasai oleh narasi musuh.”*

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien