Pejuang Pendidikan di Pelosok Pandeglang, Yusep: Lillahi Ta’ala Aja, Tuhan Maha Kaya

Gerindra Nizar

PANDEGLANG – Potret Pendidikan di Kabupaten Pandeglang terutama daerah pelosok yang berada puluhan kilometer jauhnya dari ibu kota Kabupaten masih sangat mengkhawatirkan.

Bukan saja soal akses menuju sekolah namun juga kondisi sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) yang jauh dari kata layak.

Namun upaya pencerdasan anak bangsa tidak boleh berhenti dan pesimis karena keadaan.

Fraksi serang

Seperti yang dilakukan Yusep Setiadi (25), guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) Swasta di Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, yang masih dengan optimisnya membagikan ilmu yang ia dapat dari bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta.

Hari masih pagi, sekitar pukul 6.00 WIB selimut kabut lembah terlihat masih menyelimuti jalanan desa yang menghubungkan Kecamatan Munjul dengan Kecamatan Cikeusik.

Lelaki yang telah memiliki keluarga itu dengan mantapnya melajukan sepeda motornya membelah kabut jalanan yang masih menyisakan embun yang dingin dan menusuk itu.

Setiap pagi selama 6 hari dalam satu pekan pria berbadan gempal ini tidak gentar menerobos hutan dan jalanan sepi dengan resiko kejahatan yang sewaktu-waktu bisa mencelakakannya. Jarak tempuh dari rumahnya di Kampung Cibitung Kecamatan Munjul ke madrasah tempat ia mengajar sekitar 30 menit.

Tidak ada asuransi dan jaminan kesehatan dari Dinas Pendidikan setempat, Yusep hanya seorang tenaga Pendidik Sukarelawan yang di bayar alakadarnya.

Namun niat baik untuk membuat generasi di daerah tersebut menjadi lebih baik memotivasi Yusep untuk tetap semangat berangkat ke sekolah.

Mental baja yang ia punya menurutnya didapatkan dari organisasi Mapala yang selama empat tahun ia geluti.

“Saya dulu pernah jadi Mapala, Himala namanya di UNMA (Universitas Mathla’ul Anwar – red) saya kuliah pendidikan Matematika,” ujar lelaki yang akrab disapa ‘Lundu’ ini.

Fraksi

Bukan saja pelajaran eksak matematika yang ia ajarkan, namun juga mata pelajaran lain seperti ilmu sosial dan keagaman yang jika guru lain tidak hadir, Yusep dengan ikhlas menggantikannya.

“Kadang ngajar mata pelajaran lain, kalau guru yang lain sakit,” imbuhnya.

Namun ditengah keterbatasan, Yusep tak mengeluhkan keadaannya

“Lillahi ta’ala aja, Tuhan Maha Kaya,” katanya.

Menurutnya, pendidikan murid-muridnya menjadi prioritasnya saat ini meskipun kondisi ekonomi dan kebutuhannya terkadang merepotkan.

Setidaknya paling sedikit 30 ribu rupiah harus dia keluarkan untuk sampai ke sekolah setiap harinya, belum operasional bulanan seperti perawatan kendaraan bermotor dan lain-lain.

Sementara untuk tambahan biaya hidup lainnya, Yusep menyiasatinya dengan memanfaatkan lahan sawah milik keluarganya

“Cukup untuk menyambung hidup mah,” ujarnya tegar.

Yusep adalah satu dari ribuan cerminan nasib guru sukwan yang mengabdi untuk pendidikan di daerah terpencil.

Pendidikan adalah salah satu pilar penting kehidupan yang menjadi tanggung jawab pemerintah, meskipun Undang-undang telah mengatur untuk alokasi pendidikan 20 persen namun realisasi di daerah angkanya masih di bawah 10 persen.

Harapan besar para pendidik di daerah terpencil adalah jaminan hidup layak dan perhatian pemerintah. (*)

Gerindra kuswandi