Iklan Banner

15 Tahun Jualan Buah, Pedagang di Serang Ini Hadapi Lonjakan Harga Jelang Ramadan 2026

 

SERANG – Ramadan selalu menjadi momen yang dinanti para pedagang buah.

Namun di balik meningkatnya permintaan, ada tantangan besar yang harus dihadapi, mulai dari kenaikan harga hingga persaingan pedagang musiman.

Hal itu dirasakan langsung oleh Mang Ujang (55), pedagang buah yang sudah 15 tahun berjualan di kawasan Taman Ciruas Permai (TCP), Kabupaten Serang.

Sejak memulai usahanya pada 2011, Mang Ujang telah melewati berbagai dinamika pasar.

Memasuki awal Ramadan 2026, ia mengaku penjualan memang mengalami peningkatan di banding hari biasa.

Jika di luar Ramadan omzetnya berkisar Rp2 juta per hari, saat bulan puasa pendapatannya cenderung naik. Meski begitu, ia belum bisa sepenuhnya merasa tenang.

Menurutnya, hampir seluruh jenis buah mengalami kenaikan harga menjelang Ramadan.

Komoditas seperti apel, jeruk, dan semangka merangkak naik akibat faktor cuaca dan terganggunya distribusi dari sejumlah daerah sentra produksi seperti Jawa Tengah, Banyuwangi, hingga Lampung.

Agil HUT Gerindra

“Hampir semua buah naik. Hanya pisang dan beberapa buah impor yang masih relatif stabil. Tapi pembeli sekarang lebih fokus ke kebutuhan pokok seperti beras dan minyak. Kalau harga buah terlalu tinggi, biasanya mereka menunda beli,” ujar Mang Ujang saat ditemui di lapaknya, Minggu (1/3/2026).

Selain fluktuasi harga, risiko kerugian juga menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis buah.

Mang Ujang menjelaskan, buah yang tidak terjual dalam satu hingga dua hari akan mengalami penyusutan berat. Jika terlalu lama, kualitasnya menurun dan terpaksa dibuang.

“Kalau sudah busuk ya tidak bisa dijual lagi. Itu memang risiko usaha buah. Tapi alhamdulillah, modal yang dulu saya bangun dari nol sudah kembali,” katanya.

Ia mengenang masa ketika omzet hariannya bisa menembus Rp7 juta hingga Rp8 juta. Namun kondisi tersebut kini sulit terulang.

Menurutnya, semakin banyak pedagang musiman yang bermunculan setiap Ramadan membuat persaingan kian ketat.

Trotoar dan pasar tumpah dipenuhi lapak dadakan yang menjajakan komoditas serupa.

Meski harus berbagi pasar, Mang Ujang tetap optimistis. Ia percaya buah masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menu berbuka puasa.

“Kita jalani saja dengan syukur. Rezeki sudah ada yang atur. Saya yakin tetap ada pelanggan yang setia belanja di sini,” tutupnya.***

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien