Dari Sulawesi Selatan, Pamasehi Memilih Nyantri di Ponpes Al-Khairiyah Citangkil

CILEGON

CILEGON – Keberadaan lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren dan madrasah yang mampu tumbuh pesat di tengah masyarakat perkotaan, masih tergolong jarang hingga saat ini. Namun Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil mampu menjaga eksistensi itu, dengan terus melakukan berbagai terobosan, dengan memadukan dunia pendidikan Islam dan pendidikan umum.

Terlebih Pondok Pesantren yang terintegrasi dengan Pendidikan Umum Formal kini mulai menjadi pilihan orang tua untuk anak-anaknya, dalam rangka memperkuat nilai-nilai moralitas dan juga religiusitas generasi masa depan.

Kebesaran nama Al-Khairiyah dan sistem pendidikannya yang sudah berdiri sejak tahun 1925, tidak hanya dilirik oleh masyarakat Banten, terbukti dengan makin banyaknya para pelajar dari berbagai daerah di Nusantara yang mengenyam pendidikan di Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon.

Salah satunya seperti santri yang satu ini. Nur Adril Rahmad Pamasehi, santri baru Al-Khairiyah yang berasal dari Pulau Salemo, Kabupaten Pangkeb, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Remaja kelahiran Pangkeb 8 Maret 2006 yang akrab disapa Masehi ini, mengaku mantap memilih Pondok Pesantren Al-Khairiyah Citangkil untuk meneruskan jenjang pendidikannya. Masehi rela meninggalkan kampung halamannya di Pulau Salemo demi mempelajari Islam di Perguruan Al-Khairiyah yang sudah berdiri sejak tahun 1925 ini.

Sementara untuk jenjang pendidikan formal, Masehi akan meneruskan Pendidikan di MTs Al-Khairiyah Citangkil yang masih satu lingkungan dengan pondok pesantren.

Dari nilai ijazah yang diraihnya saat berpendidikan di SDN 29 Pulau Salemo, Masehi termasuk anak yang pintar dengan nilai yang cukup bagus.

Kepada wartawan, Masehi mengaku pilihan untuk meneruskan Pendidikan di Al-Alkhairiyah Citangkil sebagai penyemangat untuk memperlajari ilmu Islam lebih baik lagi. Sehingga ketika sudah menyelesaikan pendidikannya, Masehi bisa pulang dan membangun daerahnya dengan ilmu yang dimilikinya.

“Sedih akan jauh dengan teman-teman di Pulau Salemo, tapi demi menuntut ilmu saya harus siap dan menjadi penyemangat. Ketika nanti saya pulang, bisa membawa ilmu yang bermanfaat untuk warga di Pulau Salemo,” kata Masehi.

Putra ke 3 pasangan Abdul Rahim DG Mamala dan Isnada ini berharap bisa memiliki teman yang banyak di Pondok Pesantren maupun di MTs Al-Khairiyah Citangkil, serta para Kiyai dan ustadz yang mengajar bisa mendidiknya dengan baik seperti kedua orang tuannya.

Perguruan Islam Al-Khairiyah bermula dari pendidikan pondok pesantren tradisional salafi yang didirikan Brigjen KH Syam’un pada tahun 1916, dan resmi menjadi Perguruan Islam pada tahun 1925 di Kampung Citangkil, Desa Warnasari, Kecamatan Pulomerak, Kabupaten Serang (sekarang menjadi Kawasan Industri Krakatau Steel, dan Ponpes Al-Khairiyah pindah di Kampung Citangkil, Desa Citangkil, pada tahun 1978).

Dalam perkembangannya Al Khairiyah terus tumbuh dengan Pembaharuan-pembaharuan dalam dunia pendidikan, baik berupa sistem ataupun kurikulum pesantren. Al-Khairiyah tercatat sebagai Pondok Pesantren pertama yang memberlakukan sistem kelas sampai kelas tujuh dengan kurikulumnya.

Dalam dunia pemikiran Islam, Al-Khairiyah yang dibawa Brigjend KH Syam’un yang merupakan alumni Al-Azhar University Cairo Mesir sudah mempelajari pemikiran Islam yang moderat, dengan tetap mempertahankan pemikiran tradisionalis. (*)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *