Iklan Banner

Cegah Stunting dan Underweight, KKM 87 Untirta Gelar Sosialisasi di Desa Rawasari Cisata

DPRD Kota Serang HPN

 

PANDEGLANG – Di tengah upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, masalah stunting (kekerdilan) dan underweight (berat badan kurang) pada balita masih menjadi tantangan serius, terutama di daerah pedesaan dengan akses informasi yang terbatas.

Dengan jumlah sasaran total dari kedua program sebanyak 42 responden, yang terdiri dari 21 responden di wilayah Kampung Pasir Waringin, Dusun 1, Desa Rawasari, Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang dalam program edukasi gizi dan 21 responden di Kampung Kadu Sumpung, Dusun 2, Desa Rawasari, Kecamatan Cisata, Kabupaten
Pandeglang dari program sosialisasi gemar makan ikan.

Lalu, dalam program edukasi gizi yang disertai dengan adanya penimbangan berat badan dan pengisian kuesioner didapatkan sebanyak 21 balita yang terdiri 9 balita berjenis kelamin perempuan dan 12 balita berjenis kelamin laki-laki. Program edukasi gizi dilaksanakan pada Selasa, 14 Januari 2025.

Dalam kegiatan ini melibatkan kader posyandu, mahasiswa KKM 87 Untirta, bidan desa, dan tentunya sasaran yaitu ibu dengan balita sebanyak 21 orang.

“Kegiatan ini dilakukan bersamaan
dengan hari pelaksanaan Posyandu di Dusun 1 Desa Rawasari. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Ibu Ene Marinah selaku ketua kader Posyandu Desa Rawasari, kegiatan Posyandu ini rutin dilakukan setiap bulan untuk memantau pertumbuhan bayi
dan balita,” ujar Yeni Budiawati, Dosen Pembimbing Lapangan KKM 87 Untirta.

Dalam kegiatan ini juga biasanya diawali dengan adanya sesi edukasi berupa penyuluhan kesehatan.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam kegiatan ini juga ada pemeriksaan kesehatan terhadap ibu hamil dan calon pengantin, serta adanya imunisasi anak.

Menurut salah satu responden yang merupakan seorang ibu dengan
balita, mengatakan bahwa beliau memiliki harapan atas program edukasi gizi ini dalam meningkatkan pengetahuan terkait gizi dan pola makan dalam mencegah maupun mengatasi gizi kurang pada balita.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya memahami gizi yang baik dan seimbang bagi balita untuk mencegah stunting dan underweight yang masih banyak terjadi di wilayah Banten, khususnya Kabupaten Pandeglang.

Terutama untuk mengetahui apa penyebab stunting dan underweight, bagaimana dampak jangka pendek dan jangka panjang dari anak-anak yang mengalami stunting dan underweight, serta contoh pemberian menu sehat dan gizi seimbang bagi anak balita.

“Selain itu, ibu-ibu juga diajarkan cara memantau pertumbuhan anak melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan secara rutin,” ujar Yeni.

Dengan data ini, mereka dapat segera mengambil langkah jika ada tanda-tanda gangguan tumbuh kembang.

Dedi Haryadi HUT Gerindra

“Program sosialisasi gemar makan ikan (SGMI) terdiri dari edukasi mengenai pentingnya konsumsi ikan untuk pertumbuhan balita serta adanya pelatihan memasak makanan
bergizi berupa bakso ikan lele,” ujarnya.

Pemilihan menu berupa bakso ikan lele dipilih karena mengingat lele mengandung tinggi protein yang baik, kaya akan kandungan omega 3, mudah ditemukan serta harganya yang terjangkau sehingga dapat dengan mudah diaplikasikan oleh masyarakat.

Adanya program ini tidak hanya mengedukasi mengenai pola makan dan mengatasi maupun mencegah permasalahan gizi kurang, tetapi juga memberikan keterampilan praktis kepada ibu-ibu dalam mengatasi hal tersebut.

“Program SGMI ini sangat
bermanfaat untuk ibu-ibu yang memiliki balita, karena masih banyak ibu-ibu di desa yang memercayai bahwa apabila mengonsumsi ikan dapat menyebabkan tubuh balita akan berbau amis, untuk itu program ini sangat bermanfaat untuk mengedukasi ibu-ibu tentang pentingnya mengkonsumsi ikan untuk tumbuh kembang balita,” ujar Wawat selaku koordinator kader Posyandu Dusun 2.

Dalam kegiatan SGMI ini diawali dengan penyuluhan terkait pentingnya konsumsi ikan, yang dilanjutkan dengan demo masak bakso ikan lele, dan makan bakso lele bersama.

“Rasa bakso ikan lele-nya enak dan tidak bau amis,” ujar salah satu responden yang merupakan seorang ibu dengan balita.

Pemilihan bakso ikan lele menjadi menu dalam demo masak gemar makan ikan kali ini bertujuan agar mudah dipahami cara pembuatannya, bakso ikan lele juga mengandung protein yang tinggi dan metode perebusan dipilih, karena dengan metode ini dapat meminimalisir terjadinya kerusakan pada protein ikan lele pada saat proses pemanasan.

Selain itu, pemanfaatan media digital seperti grup WhatsApp dapat digunakan untuk menyebarkan informasi dan tips seputar gizi.

Dengan cara ini, edukasi gizi bisa menjangkau lebih banyak ibu, bahkan di luar jadwal Posyandu. Pemerintah, tenaga kesehatan, instansi perguruan tinggi, dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi stunting dan underweight.

Edukasi gizi dan sosialisasi gemar makan ikan di Posyandu adalah salah satu langkah efektif yang dapat dilakukan untuk memutus rantai kekurangan gizi pada anak.

Ibu yang sadar akan pentingnya gizi memiliki peluang lebih besar untuk membesarkan anak-anak yang sehat dan cerdas.

Dengan anak-anak yang tumbuh sehat, kita membangun generasi yang lebih produktif, berdaya saing, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.

“Mari bersama-sama mendukung edukasi gizi bagi ibu-ibu di Posyandu untuk mewujudkan masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan kuat,” pungkas Yeni. (*/Red)

HPN Dinkes Prokopim
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien