Rancangan Tebal Jalan Beton Untuk Lalu Lintas Rendah
Oleh : Noor Jannah, S.T., MT, Dosen Fakultas Teknik Universitas Faletehan
Standar ini menetapkan rancangan jalan beton untuk lalu lintas rendah yang meliputi persyaratan teknis tanah dasar, lapis pondasi bawah, beton kurus, beton semen, lalu lintas dan sambungan.
Rancangan jalan beton tersebut untuk melayani beban Lalu Lintas Harian Rata-rata Kendaraan Niaga (LHRN) kurang dari 500 kendaraan per hari dan beban lalu lintas kurang dari satu juta ESAL (equivalent single axle load 18-kip/8,2 ton) selama umur rencana 20 tahun.
Dokumen referensi di bawah ini harus digunakan dan tidak dapat ditinggalkan untuk melaksanakan standar ini. SNI 1744 :2012, Metoda uji CBR laboratorium, SNI 4431 :2011, Cara uji kuat lentur beton normal dengan dua titik pembebanan SNI 03-1974-1990, Metoda pengujian kuat tekan beton.
Syaratnya adalah Tanah dasar dimana Daya dukung tanah dasar ditentukan mempunyai nilai CBR miminum 6% dengan pengujian menurut SNI 1744-2012.
Apabila tanah dasar mempunyai nilai CBR 4% dan kurang dari 6% maka harus dilakukan perbaikan tanah dasar dengan menambah tebal lapis pondasi bawah. Untuk CBR tanah dasar kurang dari 4% maka harus dilakukan analisis lebih lanjut untuk perbaikan tanah dasar agar tidak mengakibatkan kerusakan jalan beton dikemudian hari akibat kurangnya daya dukung tanah dasar.
Lapis pondasi bawah.
Daya dukung lapis pondasi bawah ditentukan mempunyai nilai CBR lebih besar dari 60% dengan pengujian menurut SNI 1744 2012. Ketebalan lapis pondasi bawah ditentukan sebesar 150 mm untuk CBR tanah dasar min. 6%, dan 250 mm untuk CBR tanah dasar min. 4% dan kurang dari 6%. Beton kurus harus mempunyai kuat tekan beton karakteristik (fc) pada umur 28 hari sebesar 8 MPa sampai dengan 11 MPa dengan pengujian menurut SNI 03-1974- 1990.
Bila tidak menggunakan beton kurus sebagai lantai kerja maka lapis pondasi harus dalam kondisi rata, bersih dengan kepadatan dan kemiringan yang seragam.
Kekuatan beton harus dinyatakan dalam nilai kuat tarik lentur (flexural strength) atau modulus keruntuhan umur 28 hari, yang didapat dari hasil pengujian kuat lentur dua titik (SNI 4431:2011) yang besarnya ditentukan sebesar minimum 3,5 MPa, 3,8 MPa dan 4,1 Mpa. Dalam perancangan jalan beton untuk lalu lintas rendah ini, penentuan tebal jalan beton didasarkan pada kategori lalu lintas yang dinyatakan dalam Lalu lintas Harian Rata-rata Kendaraan Niaga (LHRN).
Yang termasuk jenis kendaraan niaga dalam perencanaan ini adalah kendaraan angkutan barang, bus, truk sedang dan truk berat dengan sumbu tunggal roda tunggal. Lalu lintas harus dianalisis berdasarkan hasil perhitungan LHR menggunakan data terakhir dengan pencatatan kendaraan minimal selama 3 hari.
Pada jalan beton untuk lalu lintas rendah terdapat 2 (dua) jenis sambungan utama yaitu sambungan memanjang dengan batang pengikat (tie bars) dan sambungan melintang dengan ruji (dowel). Sambungan memanjang dengan batang pengikat (tie bars) Pemasangan sambungan memanjang ditujukan untuk mengendalikan terjadinya retak memanjang dan untuk mengikat antar pelat beton pada arah melintang jalan. Sambungan melintang dengan ruji (dowel).
Pemasangan sambungan melintang dengan ruji (dowel) ditujukan untuk mengendalikan retak melintang akibat susut dan sebagai penyalur beban. Jarak sambungan melintang untuk jalan beton bersambung tanpa atau dengan ruji adalah 4 m. Untuk tebal jalan beton kurang dari 200 mm tidak menggunakan ruji sedangkan untuk jalan beton dengan tebal lebih besar atau sama dengan 200 mm pada sambungan melintangnya harus dilengkapi dengan ruji polos.
Dalam Perancangan Tebal Jalan Beton, Penentuan tebal jalan beton yang tepat merupakan bagian penting dari desain jalan beton. Ketebalan jalan beton yang tidak memadai akan menyebabkan retak dan tidak tercapainya umur layanan.
Dengan mempertimbangkan aspek kemudahan perencanaan dan kemudahan pelaksanaan, maka hasil perancangan dapat disederhanakan Jumlah kendaraan dengan Beban MST (Muatan Sumbu Terberat) yang melewati ruas jalan ditentukan maksimal 10% LHR.
Beton kurus berfungsi sebagai lantai kerja dan tidak diperhitungkan dalam perhitungan kekuatan struktur. Akses ke Kawasan industry.
Data teknis perancangan jalan beton, Umur rencana 20 tahun, Panjang total jalan 3km, Jumlah lajur 2 jalur / 2 arah, Lebar jalan 4 meter, CBR tanah dasar 6%, Survey lalu lintas selama 3 hari, Jenis kendaraan yang dicatat adalah kendaraan ringan, bus 8 ton, truk 13 ton, truk 3 as 20 ton, truk 3 as 30 ton. Berdasarkan hasil survey volume kendaraan menunjukan bahwa volume kendaraan termasuk pada Jalan Khusus dengan volume 1000 kendaraan per hari.
Pada keadaan Kendaraan rata-rata 1291 Kendaraan/ hari dengan keterangan Kendaraan > 500 Kendaraan per hari, MST Maks. 30 Ton dengan Volume maks.
10 % LHRN dengan keterangan Kendaraan berat ada yang lebih dari 8 Ton, maka termasuk pada jalan khusus.
Kontrol terhadap jumlah kendaraan berat maksimum 10 % adalah : 10% X 500 Kendaraan niaga = 50 kendaraan (diijinkan).
Rata- rata kendaraan berat = 19 + 7 = 26 kendaraan, maka masih < 50 Kendaraan, sehingga memenuhi untuk Jalan Khusus. Kurang dari 1 juta ESAL selama umur rencana Kurang dari 1 juta ESAL selama umur rencana. Berdasarkan hasil survey volume kendaraan menunjukan bahwa volume kendaraan termasuk pada Jalan Khusus dengan volume 1000 kendaraan per hari.
Dalam artikel tentang rancangan tebal jalan beton untuk lalu lintas rendah, beberapa poin penting disampaikan. Pertama, jalan beton dengan ketebalan yang tepat diperlukan untuk mendukung lalu lintas yang tidak tinggi dan memastikan daya tahan.
Kedua, pemilihan material, seperti campuran beton, berpengaruh pada kualitas dan ketahanan jalan. Ketiga, metodologi perancangan harus mempertimbangkan kondisi tanah dan volume lalu lintas, dengan studi empiris dan simulasi untuk menentukan ketebalan terbaik.
Keberlanjutan juga perlu diperhatikan, dengan penggunaan material ramah lingkungan. Terakhir, faktor ekonomi penting, memastikan biaya efisien tanpa mengurangi kualitas dan keamanan jalan. Secara keseluruhan, desain yang baik harus menggabungkan aspek teknis, material, metodologi, serta keberlanjutan dan ekonomi untuk hasil yang optimal. ***

