Wisata Anyer

Warisan Megah yang Tersisihkan Waktu, Eks Pabrik Minyak Peninggalan Belanda di Rangkasbitung Terbengkalai

 

LEBAK – Di ujung lorong belakang Rabinza, Rangkasbitung, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris dilupakan zaman.

Temboknya retak, atapnya tumbuh semak liar, dan lantainya diselimuti debu sejarah.

Dialah eks pabrik minyak kelapa peninggalan kolonial Belanda yang dulu bernama N.V. Maatschappij tot Exploitatie van Olie Fabriek.

Didirikan pada 1918, bangunan ini dulunya menjadi denyut nadi ekonomi Hindia Belanda di jantung Banten.

Kini, bangunan itu hanya menyisakan gema kosong. Sisa-sisa kejayaan masa lalu tertutup ilalang dan keheningan.

Tak banyak yang tahu, pabrik ini pernah mengekspor minyak kelapa dalam skala besar ke berbagai negara, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Merek dagangnya: Mexolie.

“Bangunan itu bukan sekadar pabrik. Ia adalah simbol bagaimana kolonialisme mengeruk sumber daya daerah. Mexolie adalah saksi bisu ambisi ekonomi Eropa yang menjangkau hingga ke kebun-kebun kelapa di pelosok Banten,” kata Yoga, sejarawan lokal Lebak, kepada Fakta Banten, Minggu (4/5/2025).

Yoga menuturkan bahwa runtuhnya pabrik ini dipicu pergeseran industri minyak dunia. Sawit muncul sebagai komoditas baru yang lebih murah dan lebih efisien.

Pada awal 2000-an, produksi Mexolie menurun drastis. Tahun 2006, mesin-mesin mulai diam. Para pekerja satu per satu mengundurkan diri. Dan pada 2009, pabrik resmi berhenti berdetak.

“Setelah itu, bangunannya terbengkalai. Tidak ada upaya serius dari pemerintah atau pemilik aset untuk menyelamatkan sejarah yang tersisa,” ujar Yoga.

Pabrik yang pernah mempekerjakan ratusan warga lokal itu kini tinggal rangka besi dan serpihan kenangan.

Lebih ironis lagi, banyak warga sekitar bahkan tak tahu bahwa bangunan tua itu pernah menjadi pusat pengolahan minyak kelapa terbesar di Banten.

Sejarawan lainnya, Ibnu, menambahkan bahwa terdapat banyak versi mengenai kepemilikan pabrik tersebut.

Beberapa sumber menyebut bahwa pengelolanya berasal dari keturunan Tionghoa-Jawa yang berpusat di Semarang.

“Di masa jayanya, pabrik ini jadi titik pengiriman minyak ke luar negeri. Tapi sekarang, kita hanya melihatnya sebagai reruntuhan tanpa narasi,” kata Ibnu.

Tak ada papan informasi. Tak ada pagar pengaman. Sejarah berdiri telanjang di tengah kota, menunggu diingat atau dilupakan sepenuhnya.

Pabrik Mexolie adalah bagian penting dari sejarah industri di Lebak. Pemerintah daerah, pelaku sejarah, dan masyarakat perlu duduk bersama untuk merumuskan masa depan bangunan ini.

Apakah dibiarkan membusuk, atau dijadikan monumen pembelajaran tentang bagaimana kekuasaan pernah mengalir melalui tetes-tetes minyak kelapa. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien