HIPMI Minta Pengusaha Banten Jangan Hanya Cari Cuan di Pemerintahan, Sebut Dua Sektor Ini Harus Digarap

SERANG-Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta para pengusaha yang ada di Banten jangan hanya mencari cuan di pemerintahan.
Perwakilan HIPMI Pusat, Arie Nanda Djausal mengatakan, para pengusaha di Banten hendaknya harus mulai menggarap sektor industri manufaktur dan industri pengolahan.
“Anggota kita (HIPMI) masih banyak jadi kontraktor, pengelola, fokus ke APBD saja. Jangan sampai ke depan industri manufaktur ciri khas tersebut dimainkan orang (lain). Kita harapkan ke depan jangan hanya bermain di sektor pemerintahan,” ujarnya dalam sambutan Musda ke-VIII HIPMI Banten, Selasa (27/5/2025).
Terlebih, kata dia, industri Banten ditopang oleh dua sektor ini. Maka seharusnya pengusaha lokal lebih mengolah dan berkecimpung di sektor manufaktur dan industri.
“Kalau lihat struktur ekonomi Banten, cukup baik. Di negara maju seperti Cina dan Jepang itu ekonomi sektor manufaktur atau industri pengolahan, di angka 42 persen,” ungkapnya.
Ia mengaku heran, Banten yang terkenal dengan industri pengolahannya beserta manufaktur, memegang peranan penting sehingga menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun tingkat PDRB Per kapita masih rendah.
“Industri pengolahan di Banten itu 31 persen, ini cukup baik perekonomiannya tetapi yang kami lihat PDRB perkapita nya masih di bawah nasional. Saya sudah berbincang dengan Ketum Ananda, kenapa bisa begini,” ujarnya.
Ia menduga, imbas para pengusaha yang hanya berfokus mencari cuan di APBD Banten menjadi jawaban atas keheranannya. Apabila dua sektor ini tak digarap, maka potensi digarap oleh pengusaha luar semakin besar.
Ia mencontohkan, sektor pengolahan atau disebut industri hilir di Lampung, para pengusaha lokalnya hanya berkutat di APBD. Imbasnya, sektor ini malah digarap oleh pengusaha luar dan menyebabkan perputaran uang ke luar Lampung.
“Itu karena pengusaha lokal di Lampung masih banyak fokus kontraktor, pemborong, pemain di APBD, akhirnya sektor hilir tersebut banyak di mainkan orang orang-orang luar,” ujarnya.
“Saya cari data BI (Bank Indonesia) Lampung, setiap hari uang di Lampung 70 persen ngalir ke luar, karena mereka dari luar Lampung hanya berproduksi saja di Lampung, tapi kantor pusat ada di Jakarta,” tutupnya. (*/Ajo)



