Iklan Banner

Warga Binaan Lapas Rangkasbitung Dilatih Bertani, Siap Jadi Petani Mandiri Usai Bebas

DPRD Kota Serang HPN

 

LEBAK – Lapas Kelas III Rangkasbitung tak sekadar menjadi tempat menjalani hukuman, tapi juga ladang harapan.

Melalui program pelatihan pertanian, warga binaan dibekali ilmu dan keterampilan yang bisa mereka andalkan saat kembali ke tengah masyarakat.

Pelatihan ini jadi bukti nyata bahwa pemasyarakatan bisa jadi titik balik kehidupan.

Sebanyak 20 warga binaan Lapas Kelas III Rangkasbitung mengikuti pelatihan kemandirian di bidang pertanian yang digelar di aula utama lembaga pemasyarakatan tersebut.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Lapas Rangkasbitung dengan Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, yang dirancang selama 36 jam pengajaran.

Tujuannya tak sekadar memberi pelajaran teori, melainkan membekali mereka dengan keterampilan pertanian praktis yang bisa langsung diterapkan saat mereka bebas nanti.

Selain itu, kegiatan ini juga turut mendukung agenda besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kepala Lapas Rangkasbitung, Rd Achmad Zaki, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari akselerasi pembinaan kemandirian sebagaimana tertuang dalam 13 Program Prioritas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Dedi Haryadi HUT Gerindra

“Kami ingin warga binaan benar-benar siap saat kembali ke masyarakat. Mereka tidak hanya bebas secara hukum, tapi juga siap mandiri secara ekonomi,” ujar Zaki, Selasa (8/7/2025).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi ini.

Ia menilai, program pelatihan tersebut sejalan dengan visi Pemkab Lebak dalam meningkatkan kualitas SDM, khususnya di sektor pertanian yang masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

“Pertanian bukan hanya soal menanam, tapi juga soal ketahanan. Kami berharap ilmu yang didapat di sini bisa jadi bekal hidup yang berkelanjutan bagi para warga binaan saat mereka sudah bebas,” tutur Rahmat.

Program pelatihan ini menggabungkan teori dan praktik. Selain belajar di ruang kelas, para peserta juga akan terlibat langsung di lahan pertanian yang tersedia di dalam dan luar Lapas, termasuk di Sarana Asimilasi dan Edukasi.

Kasubsi Pembinaan, Eka Yogaswara, menyebut pelatihan ini telah disusun sesuai standar Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang diakui oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI.

“Kami pastikan kurikulumnya mengikuti standar nasional. Jadi peserta tidak hanya belajar bercocok tanam, tapi juga memahami cara bertani yang efisien dan berorientasi hasil,” ujar Eka.

Lewat pelatihan ini, Lapas Rangkasbitung memberi lebih dari sekadar hukuman mereka memberikan harapan.

Harapan bahwa setiap manusia bisa bangkit, belajar, dan kembali berdaya. Karena di balik jeruji besi, masih ada ladang yang bisa ditanami masa depan. (*/Sahrul).

HPN Dinkes Prokopim
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien