Iklan Banner

Sempat Tak Punya Sumber Air, SMAN 4 Cilegon Pernah Pungut Iuran dari Siswa untuk Pembuatan Sumur Bor

DPRD Kab Serang HPN

 

CILEGON – Polemik dugaan mewajibkan murid pembelian paket seragam melalui koperasi sekolah di SMAN 4 Cilegon yang mencapai Rp1,8 juta per siswa, ternyata bukan satu-satunya keluhan yang mencuat dari kalangan wali murid dan alumni.

Sejumlah alumni mengungkapkan bahwa pihak sekolah sebelumnya juga sempat melakukan pungutan dana infak untuk pembangunan sumur bor di lingkungan sekolah.

Besaran infak yang diduga diwajibkan itu mencapai ratusan ribu per murid, namun disebut oleh alumni proyek tersebut tak kunjung terealisasi dalam waktu lama.

Wakil Kepala SMAN 4 Cilegon, Mujahid, menjelaskan bahwa kebutuhan akan sumur bor bermula dari kondisi sekolah yang mengalami kekurangan air sejak lama.

“SMAN 4 itu dulu daerahnya kekurangan air. Kami sempat dapat bantuan sumur bor dari Pemkot Cilegon, tapi hanya bertahan dua tahun. Awalnya kami kira karena mesinnya rusak, ternyata setelah dicek tanahnya memang tidak mengandung cukup air,” ungkap Mujahid, Selasa (22/7/2025).

Ia menyebut sejak tahun 2009, sekolah tak memiliki akses air bersih yang memadai.

Akibatnya, siswa terpaksa menggunakan fasilitas masjid masyarakat sekitar hanya untuk buang air atau berwudhu.

HPN Dinkes Prokopim

“Masyarakat mulai mengeluh karena siswa-siswa sering ke masjid hanya untuk buang air. Dari situ, kami mulai mencari solusi,” ujarnya.

Pada tahun 2023, pihak sekolah bersama komite dan orang tua siswa menyepakati pengumpulan dana sukarela dari siswa kelas X hingga XII dengan nominal Rp100.000 hingga Rp150.000 per siswa.

Namun dana yang terkumpul masih belum mencukupi pada tahun itu.

“Biaya pengeboran saja bisa mencapai Rp150 juta. Dana dari sumbangan awal masih kurang, jadi pada tahun berikutnya kami kembali membuka infak sukarela, tanpa patokan nominal. Saat ada pertemuan, kami keliling untuk meminta bantuan seikhlasnya,” kata Mujahid.

Upaya tersebut terus dilakukan di tahun berikutnya, hingga dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp120 juta.

Meskipun belum mencukupi, pengeboran akhirnya tetap dilakukan secara bertahap, bahkan memakan waktu hingga empat bulan.

“Kekurangan dananya kami upayakan melalui kerja sama dan bantuan dari perusahaan-perusahaan sekitar. Alhamdulillah, di awal tahun 2024 proyek tersebut selesai,” tambahnya.

Menanggapi keluhan alumni yang merasa belum melihat hasil dari kontribusi tersebut, Mujahid memaklumi.

“Wajar bila ada yang mengira belum jadi, karena saat itu belum sempat menikmati hasilnya. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah bisa dimanfaatkan oleh siswa,” pungkasnya. (*/Nandi).

HUT Fakta PT PCM
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien