Iklan Banner

Kekerasan Antar Pelajar Kembali Menghantui Lebak, PII Desak Sekolah dan Orangtua Bertindak Cepat

 

LEBAK – Aksi kekerasan antar pelajar kembali mencuat di Kabupaten Lebak. Fenomena yang sempat mereda ini kini kembali jadi sorotan, terutama setelah beberapa rekaman video penyerangan antar pelajar beredar luas di media sosial seperti TikTok dan Instagram, memicu kekhawatiran dari berbagai kalangan.

Pelajar Islam Indonesia (PII) Kabupaten Lebak angkat bicara terkait maraknya insiden kekerasan yang dilakukan oleh siswa, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

Ketua Umum PII Lebak, Ari, menyebutkan bahwa fenomena ini bisa menjadi ancaman serius terhadap stabilitas dunia pendidikan di daerah tersebut.

“Situasi ini tidak bisa dianggap biasa. Kekerasan pelajar bisa berujung fatal, bahkan sampai menghilangkan nyawa. Ini bukan hanya soal pelanggaran disiplin, tapi sudah masuk ranah kriminal,” tegas Ari saat dimintai keterangan pada Jumat (1/8/2025).

Menurut Ari, sebagian besar insiden kekerasan antar pelajar dipicu oleh konflik pribadi yang kerap kali berkembang menjadi dendam antar kelompok.

Tak jarang, rivalitas yang diwariskan dari angkatan ke angkatan ikut menyulut api permusuhan antar sekolah.

“Kadang motifnya sepele, tapi dibumbui dengan ego kelompok dan gengsi sekolah. Akhirnya, bentrok fisik di jalan pun dianggap ‘pembuktian’ yang salah kaprah,” jelasnya.

Agil HUT Gerindra

Ari juga mendesak pihak sekolah untuk lebih aktif dalam melakukan pengawasan terhadap perilaku siswa, baik selama jam belajar maupun di luar sekolah.

Ia menilai, pengawasan yang lemah menjadi celah tumbuh suburnya kekerasan pelajar.

“Sudah waktunya sekolah tidak hanya fokus pada akademik. Perlu ada pendekatan moral dan penguatan karakter. Selain itu, lembaga pendidikan bersama aparat kepolisian harus rutin melakukan sosialisasi soal bahaya dan konsekuensi hukum dari tindakan kekerasan,” tegasnya.

Tak hanya menyalahkan lingkungan sekolah, Ari juga mengajak para orangtua untuk tidak lepas tangan dalam mendidik dan mengawasi anak-anak mereka.

Menurutnya, kontrol dari rumah merupakan tembok pertahanan pertama yang dapat mencegah anak terlibat dalam aksi kekerasan.

“Anak-anak butuh perhatian dan kontrol dari orangtuanya. Jangan sampai mereka belajar dari lingkungan yang salah. Jika sampai terjerumus, bukan hanya sekolah yang rugi, tapi juga masa depan mereka sendiri,” ujarnya.

Fenomena kekerasan pelajar bukanlah sekadar cerita ‘nakal-nakalan remaja. Ini alarm serius yang menandakan bahwa ada yang perlu dibenahi dalam sistem pendidikan, lingkungan sosial, dan pola asuh keluarga.

Diperlukan sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga untuk mencegah generasi muda hancur oleh konflik yang sia-sia. (*/Sahrul).

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien