Hadiri Pelantikan PP KB PII 2024–2028, Ahmad Muzani: Saya Bangga Menjadi Bagian dari PII
JAKARTA – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Ahmad Muzani, menghadiri pelantikan Pengurus Pusat Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PP KB PII) periode 2024–2028, yang berlangsung di Gedung Nusantara V, Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Minggu (3/8/2025).
Dalam sambutannya, Muzani menyampaikan rasa bangga menjadi bagian dari organisasi yang telah berkiprah sejak era awal kemerdekaan Indonesia.
“Saya bangga menjadi bagian dari organisasi PII. Kami percaya, jika Republik Indonesia ini kuat, maka rakyat Indonesia juga akan kuat. Jika Republik Indonesia ini kuat, maka Pancasila akan kuat. Jika Republik Indonesia kuat, maka kita semua juga akan kuat. Dan karena itu, kita semua harus tetap mempertahankan pendidikan,” ujar Muzani disambut tepuk tangan hadirin.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa Pelajar Islam Indonesia (PII) merupakan organisasi yang telah eksis sejak 1947 dan memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah bangsa, termasuk dalam menjaga nilai-nilai dasar negara.

“Sudah lahir sejak tahun 1947 sampai sekarang. Karena itu, relevan cita-cita pekerjaan Indonesia tidak boleh diambil. Peran PII dalam sejarah Republik Indonesia telah membuktikan terhadap gerusan dan kelenturan sejarah yang sudah dibuktikan,” katanya.
Muzani menyinggung pula bagaimana PII berdiri di garda depan ketika Pancasila mendapat tantangan pada masa lalu.
“Ketika Pancasila diterangkan tahun 1965, PII tampil mempertahankan Pancasila meskipun dirinya propek-propek dan dibutuhkan A, B dan C. Ketika Pancasila dipaksakan menjadi asas tunggal dengan cara-cara politik yang tidak demokratis, tidak konstitusional, PII menolak pemaksaan asas tunggal itu. Dan PII tampil sebagai pahlawan itu,” ungkapnya.
Menurutnya, kecintaan PII terhadap bangsa dan ideologi negara adalah sikap yang konsisten dan tidak pernah luntur oleh keadaan.
“Seperti akhirnya, kecintaan PII terhadap negeri ini tidak tertukar oleh apa pun. Kecintaan PII terhadap Pancasila tidak pernah tertukar dengan apa pun, meskipun kadang-kadang dirinya dibutuhkan A, B dan C. Karena itu sudah sekalian,” tutupnya.(*/Nandi).

