‎Sekolah Islam di Tangsel Tahan Ijazah, Guru Single Parent Kelimpungan Penuhi Kebutuhan Harian Anak-anaknya


‎TANGERANG SELATAN – Sebuah ironi terjadi di dunia pendidikan. Seorang guru single parent, Putri Puspita (41), justru harus berhadapan dengan yayasan tempatnya pernah mengabdi di sana.

Ijazah aslinya yang ditahan oleh SMP Islam Ash Shiddiqiyyah di bawah Yayasan Ash Shiddiq, membuatnya tak bisa mencari nafkah untuk membiayai pendidikan dan kebutuhan sehari-hari ketiga anaknya yang merupakan hafidz dan hafidzah.

‎Kisah pilu ini berawal ketika Putri mulai mengajar mata pelajaran Olahraga untuk siswi (Akhwat) di sekolah tersebut mulai tanggal 5 Mei 2023.

Saat penandatanganan kontrak, ia sudah dihadapkan pada ketidakjelasan.

‎”Janji awal gaji Rp 2,5 juta, tapi di kontrak hanya ditulis Rp 1,5 juta. Kata HRD-nya, Gapapa ditulis Rp 1,5 juta dulu karena ini memang formalitas nya seperti ini, tapi nanti digajinya tetap Rp 2,5 juta,” kata Putri, kepada Fakta Banten, Selasa (14/10/2025).

‎Namun kenyataan justru lebih pahit. Bulan pertama ia tidak terima gaji Rp 2,5 juta seperti yang di janjikan, dengan alasan “penyesuaian” dengan guru lain.

Gaji bulan kedua juga tak kunjung cair, dan gaji bulan ketiga katanya sudah dipastikan tidak dicairkan, karena Putri mulai berhenti bekerja pada bulan ketiga.

Tak hanya itu, Putri juga mengaku mengalami diskriminasi.

“Saat libur nasional, saya dipaksa masuk tapi tidak dapat gaji lembur, sedangkan guru lain yang masuk dapat,” ujarnya menjelaskan.

Beban sebagai single parent dengan tiga anak membuat perjuangan Putri semakin berat. Yang membuatnya tetap kuat adalah prestasi ketiga anaknya.

Saat Putri masih menjadi guru di SMP Islam tersebut, Anak pertamanya yang laki-laki (18) belum mendapatkan beasiswa full, dan Putri harus tetap menanggung biaya pendidikannya sedangkan anak keduanya yang perempuan (16), sudah mendapat beasiswa full sampai sekarang.

PWI Peduli

Sementara anak bungsunya masih duduk di bangku kelas 2 SD di sebuah pesantren.

‎”Alhamdulillah mereka semua sekarang sudah dapat beasiswa, tapi tetap ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Sampai-sampai salah satu anak saya , saat saya masih menjadi guru disana, sempat berhenti sekolah setahun karena tak ada biaya,” tuturnya dengan suara bergetar.

Tertekan dengan kondisi tersebut, Putri memutuskan mengundurkan diri di akhir bulan ketiga. Saat itulah masalah terbesar muncul.

Pihak yayasan menahan ijazah SMA-nya dan mensyaratkan pembayaran denda sebelum gaji tertunggak dilunasi.

“Gaji akan keluar kalau sudah bayar denda,” ujar Putri menirukan pernyataan sekolah.

‎Yang memperparah keadaan, nilai denda yang diminta ambigu. Bisa Rp 4,5 juta berdasarkan kontrak, atau Rp 7,5 juta mengacu janji lisan.‎

Padahal, proses pengunduran dirinya terjadi setelah ia “ditawari” opsi oleh HRD, dan ia telah melatih penggantinya untuk mata pelajaran olah raga dan renang.

‎Putri mengaku, ijazah yang ditahan itu adalah satu-satunya modalnya untuk melamar kerja dan mengumpulkan dana guna menyekolahkan kembali anak bungsunya serta melunasi kewajiban untuk anak pertamanya dan beberapa kebutuhan lainnya.

“Ijazah itu satu-satunya modal saya. Dengan ijazah ditahan, saya tidak bisa melamar kerja dimanapun. Sebagai single parent, nafkah untuk anak-anak terancam,” keluhnya.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi ke Ketua Yayasan Ash Shiddiq dan HRD SMP Islam Ash Shiddiqiyyah belum berhasil.

Pihak Yayasan belum memberikan jawaban atas konfirmasi yang diberikan oleh wartawan

Nasib Putri dan ketiga anak hafidznya kini menggantung. Sementara ijazahnya masih “ditawan”, masa depan pendidikan anak-anaknya pun ikut terancam. Sebuah ironi pahit di dunia pendidikan yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa.

‎”Jujur saya gak sanggup bekerja di tempat itu, gaji kecil tidak sesuai dengan kesepakatan dan kerjaannya juga berat. Dari Subuh sampai malam kerja. Dan setelah saya pertimbangkan saya lebih baik mencari kerjaan lain untuk menafkahi ketiga anak saya. Karena gaji tidak sesuai kesepakatan maka dari itu saya memilih untuk mengundurkan diri. Itu pun karena HRD menawari saya untuk mengundurkan diri,” ucap Putri dengan mata berkaca-kaca, menutup wawancaranya dengan awak media. (*/Hery)

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien