Habib Umar bin Hafidz Hadiri Acara GMIB di Tangsel, Ingatkan Peran Suci Masjid
TANGERANG SELATAN – Deklarasi Gerakan Masjid Indonesia Berdaya (MIBA) yang digelar Senin (20/10/2025) ditutup dengan wejangan spiritual yang mendalam dari ulama kharismatik asal Yaman, Habib Umar bin Hafidz.
Saat sosok yang mulia itu tiba, ruangan langsung diselimuti keheningan khidmat, yang kemudian pecah oleh lantunan sholawat dan gemuruh sapaan “Masha Allah, SubhanaAllah” dari para peserta.
Banyak yang tak mampu menyembunyikan haru, dengan mata berkaca-kaca bahkan menangis, hanya karena dapat menatap wajah dan keteduhan mata sang ulama.
Di hadapan ratusan pengurus masjid se-Indonesia, Habib Umar bin Hafidz menegaskan kembali fungsi utama masjid sebagai pusat penyejuk hati dan penguatan iman, bukan ajang kompetisi duniawi.
Melalui penerjemah, Habib Umar menyampaikan pesan intinya dengan khidmat.
“Hendaknya isi masjid adalah untuk menguatkan iman dan menguatkan persatuan, serta menambah keyakinan. Tidak boleh masjid itu digunakan sebagai ajang kompetisi, ajang untuk berkampanye, berbicara hal-hal untuk mempengaruhi, mempropaganda orang dengan duniawi,” tegasnya.
Wejangan ini hadir di tengah semangat gerakan yang ingin menjadikan masjid sebagai pusat perekonomian umat.

Habib Umar memberikan penekanan pada keseimbangan, bahwa penguatan aspek duniawi tidak boleh menggeser fungsi spiritual masjid yang utama.
Beliau menambahkan, masjid seharusnya diisi dengan kegiatan yang fokus pada penanaman nilai-nilai ilahiyah.
”Tetapi hendaknya diisi untuk berbicara tentang syariat Allah, mengajarkan syariat Allah, dan juga menambah keyakinan dan keimanan kepada Allah,” jelasnya.
Selain itu, sebagai penutup wejangannya guna menyentuh relung hati para jamaah, Habib Umar menggambarkan kondisi ideal seorang muslim ketika memasuki masjid.
“Sehingga setiap kali orang Islam masuk ke dalam masjid, maka hatinya akan dingin, hatinya akan tenang, hatinya akan tentram, merasa aman dan nyaman di dalam masjid,” tuturnya.
Pesan yang disampaikan Habib Umar bin Hafidz ini menjadi pengingat dan pondasi spiritual bagi Gerakan Masjid Indonesia Berdaya.
Wejangan ini menggarisbawahi bahwa dalam upaya memberdayakan ekonomi dan sosial, ruh dan kemurnian fungsi masjid sebagai taman penyejuk hati dan rumah Allah harus tetap dijaga sebagai prioritas tertinggi.***


