Iklan Banner

Dinas LH Cilegon dan PT KTI Akan Bangun Sumur Resapan untuk Penanggulangan Banjir

Oong Ade HUT Gerindra

 

CILEGON – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon berencana membangun delapan titik sumur resapan sebagai upaya mengurangi genangan air di wilayah rawan banjir.

Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi bersama pihak industri, salah satunya PT Krakatau Tirta Industri (KTI), Selasa (6/1/2026).

Kepala DLH Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, mengatakan lokasi pembangunan sumur resapan yang semula direncanakan di Jalan Lingkar Selatan (JLS) dialihkan ke wilayah Kelurahan Bendungan setelah dilakukan evaluasi dampak banjir.

“Dengan PT KTI (Krakatau Tirta Industri-red), rencananya kita mau bangun, pertama kita rencanakan di JLS (Jalan Lingkar Selatan-red). Tapi dengan melihat dampak yang terjadi dari banjir kemarin, kita coba alihkan ke Kelurahan Bendungan,” ungkapnya.

DLH menargetkan sekitar delapan sumur resapan yang akan diprioritaskan di ruas jalan dengan tingkat genangan cukup tinggi saat hujan deras.

“Sumur resapan yang kita bangun saat ini, ya, sekitar 8 titik gitu. Kita prioritaskan di jalan-jalan yang memang genangannya lumayan besar, seperti itu,” jelas Sabri.

Dalam perencanaannya, DLH telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan menetapkan Kecamatan Cibeber dan Kecamatan Cilegon sebagai wilayah prioritas penanganan banjir.

Agil HUT Gerindra

“Sebenarnya kita tadi sepakat dengan PU (Pekerjaan Umum-red), kita sepakat ada dua kecamatan yang menjadi fokus kita, Cibeber dan Cilegon,” katanya.

Selain itu, DLH juga memfokuskan pembangunan di wilayah Cibeber Kulon, khususnya kawasan Sambirata yang kerap mengalami genangan.

Sabri menyebutkan, pembangunan sumur resapan terakhir dilakukan pada 2020 dengan total sekitar 600 titik yang mayoritas berada di wilayah Merak.

“Tahu 2020 itu terakhir dan sekitar 600 titik yang sudah terpasang di Cilegon ini, dan fokusnya ada di wilayah Merak waktu itu, gitu. Nah, kita coba mengalihkan ini ke wilayah Cibeber dan Cilegon,” ujarnya.

DLH menegaskan sumur resapan tidak sepenuhnya mencegah banjir, namun efektif mempercepat surutnya genangan air.

“Sumur resapan itu tidak mencegah banjir, tapi dia mengurangi genangan yang terjadi. Jadi, apa yang dilakukan seperti DKI (Jakarta), Bogor, nah mereka itu banyak membangun sumur resapan,” katanya.

Secara teknis, pembangunan sumur resapan dinilai mampu memangkas durasi genangan dari beberapa jam menjadi sekitar setengah jam.

“Jadi kalau genangannya sekitar 4 jam, bisa dikurangi menjadi setengah jam, seperti itu. Karena kita menghitungnya berdasarkan tinggi genangan dikalikan dengan panjang dan lebar jalan,” jelasnya.

DLH berharap program ini mendapat dukungan dari lintas sektor, termasuk Bappeda dan industri di Kota Cilegon.(*/ARAS)

Ade Hasbi HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien