Banjir Terjang Cilegon, Lansia 70 Tahun Meninggal Dunia Usai Terpeleset di Tengah Genangan
CILEGON – Banjir yang melanda Lingkungan Sawah, Kelurahan Sukmaja, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, pada Sabtu (7/3/2026) malam sekitar pukul 22.30 WIB menelan korban jiwa.
Seorang lansia bernama Sariyem (70), yang akrab disapa Mbah Ceplis, meninggal dunia setelah terpeleset saat berusaha kembali ke rumahnya di tengah genangan air yang cukup tinggi.
Ketua RW 02, H. Ade Sudrajat, menjelaskan peristiwa itu terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut tanpa henti hingga menyebabkan air meluap ke permukiman warga.
“Sekitar pukul 22.30 WIB hujan turun sangat deras dan tidak berhenti. Saat itu almarhumah Ibu Sariyem, yang biasa dipanggil Mbah Ceplis, sedang berada di rumah tetangga,” ujar Ade saat ditemui di lokasi kejadian, Minggu (8/3/2026) malam.
Ade menuturkan, ketika air mulai meninggi warga sempat menahan korban agar tidak keluar rumah. Namun almarhumah tetap memaksakan diri pulang untuk mengecek kondisi rumahnya.
“Setelah melihat rumahnya, almarhumah kembali lagi. Tiba-tiba beliau terpeleset. Kebetulan ada warga yang melihat almarhumah sudah dalam posisi terkelungkup di atas air. Padahal air di lokasi kejadian sebenarnya tidak terlalu dalam, hanya sekitar selutut orang dewasa,” jelasnya.
Menurut Ade, korban diketahui memiliki riwayat penyakit darah tinggi. Setelah kejadian, warga langsung membawa korban ke Rumah Sakit Kurnia untuk mendapatkan pertolongan.
“Namun menurut dokter, almarhumah sudah meninggal dunia sebelum sampai di rumah sakit,” katanya.
Ade juga mengungkapkan bahwa ketinggian air di beberapa titik cukup tinggi. Di depan mushola, genangan air bahkan mencapai sekitar 1,5 meter, sementara di dalam rumah korban setinggi dada orang dewasa.
Ia menduga banjir terjadi akibat drainase yang menyempit karena sebagian saluran air tertutup bangunan.
“Dulu drainase itu terbuka, namun sekarang sudah ditutup oleh pemilik toko di depan sehingga mempersempit saluran air,” ujarnya.
Selain drainase yang menyempit, ia juga menyebut tandon penampungan air yang sudah dangkal menjadi salah satu penyebab banjir. Tandon tersebut kini tertutup lumpur dan rumput sehingga tidak mampu menampung air secara maksimal.
Ade mengaku Lingkungan Sawah memang sudah lama menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Namun tahun ini kondisinya dinilai jauh lebih parah.
“Dari dulu memang langganan banjir kalau musim hujan, tapi tahun ini banjirnya makin parah,” tuturnya.
Ia pun berharap pemerintah segera melakukan normalisasi tandon penampungan air tersebut.
“Awalnya kedalaman tandon sekitar tiga meter, sekarang tinggal setengah meter. Kami meminta pemerintah segera menormalisasi agar tandon bisa kembali menampung air dan tidak masuk ke permukiman warga,” harapnya.
Sementara itu, Wati, anak almarhumah Sariyem, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan ibunya terjatuh saat ketinggian air sudah cukup tinggi.
“Ketika air naik, almarhumah jatuh dan langsung terkelungkup. Diduga keminum air,” kata Wati.
Menurutnya, salah satu cucu korban sempat memberikan pertolongan dan membawa korban ke rumah sakit.
“Ada anak saya yang menolong, lalu digotong dan langsung dibawa ke RS Kurnia. Tapi di sana sudah dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya.
Pantauan di lokasi, air di permukiman warga Lingkungan Sawah kini sudah mulai surut. Di depan masjid, ketinggian air tersisa sekitar sedengkul orang dewasa. Sejumlah warga terlihat membersihkan rumah mereka setelah banjir sempat masuk ke dalam rumah. ***

