Harga Kedelai dan Plastik Melejit, Pengusaha Tempe di Lebak Pilih Perkecil Ukuran Demi Bertahan
LEBAK – Tekanan kenaikan harga bahan baku mulai dirasakan serius oleh pelaku usaha kecil di Kabupaten Lebak. Salah satunya dialami pengusaha tempe yang kini harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah biaya produksi yang terus meningkat.
Abah Momoy, perajin tempe di Desa Mekarsari, Kecamatan Rangkasbitung, mengaku lonjakan harga kedelai dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung terhadap usahanya. Bahan utama produksi tersebut kini mengalami kenaikan signifikan.
“Sekarang harga kedelai sudah sekitar Rp575 ribu per karung. Sebelumnya masih di bawah Rp400 ribu, jadi jelas sangat memberatkan,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Tak hanya kedelai, biaya produksi juga ikut terdorong naik akibat harga bahan pendukung seperti plastik yang ikut melonjak. Kondisi ini semakin mempersempit margin keuntungan yang selama ini sudah tipis.
“Plastik juga naik, dari Rp10 ribu jadi Rp17 ribu. Semua serba mahal sekarang,” katanya.
Meski biaya produksi meningkat, Abah Momoy mengaku belum berani menaikkan harga jual tempe.
Ia khawatir konsumen akan beralih atau mengurangi pembelian jika harga dinaikkan.
Sebagai jalan tengah, ia memilih strategi bertahan dengan mengurangi ukuran tempe, namun tetap mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau di masyarakat.
“Kami tidak naikkan harga, tapi ukuran sedikit dikurangi. Biar tetap bisa dibeli pelanggan,” jelasnya.
Langkah tersebut diambil agar usahanya tetap berjalan dan pelanggan tidak berkurang. Ia juga mengakui harus bekerja lebih keras untuk menjaga pemasukan di tengah kondisi yang tidak menentu.
“Sekarang harus lebih rajin jualan. Kalau tidak begitu, sulit untuk menutup biaya,” tambahnya.
Di tengah tekanan tersebut, ia berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap pelaku usaha kecil, khususnya yang bergantung pada bahan baku impor seperti kedelai.
“Mudah-mudahan harga bisa kembali stabil. Soalnya sekarang hampir semua kebutuhan naik, kami jadi makin berat,” tutupnya. (*/Sahrul).


