Wisata Anyer

Dari Lebak untuk Dunia, Silat Tradisional Banten Dilirik Pesilat Asal Italia

Posco Idul Adha

 

LEBAK– Di sebuah kampung di Kabupaten Lebak, suara tabuhan gendang dan langkah kaki para pesilat sore itu terdengar berbeda dari biasanya.

Bukan hanya anak-anak dan remaja lokal yang memenuhi arena latihan, tetapi juga belasan warga negara asing asal Italia yang ikut larut mempelajari jurus demi jurus pencak silat tradisional Banten.

Momen itu terjadi di Sanggar Putra Panglipur Banten, Kampung Rancasema, Desa Kaduagung Timur, Kecamatan Cibadak.

Di tengah perkembangan budaya modern dan dominasi teknologi digital, kesenian warisan leluhur justru mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat luar negeri.

PT PCM Idul Adha

Sebanyak 15 pesilat asal Italia tampak serius mengikuti latihan budaya dan bela diri tradisional.

Ia mengenakan pakaian hitam khas pesilat lengkap dengan ikat kepala, mereka bergerak mengikuti arahan pelatih sambil sesekali menikmati irama musik tradisional yang mengiringi latihan.

Suasana latihan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Tidak ada sekat bahasa maupun perbedaan negara.

Para peserta asing terlihat membaur dengan pesilat lokal, mulai dari anak-anak hingga remaja yang sehari-hari berlatih di sanggar tersebut.

Ketua Perguruan Pukulan Pencak Silat Sera Italia, Massimilliano Morandini, mengaku ketertarikannya terhadap pencak silat Indonesia bukan semata soal bela diri.

Baginya, silat tradisional menyimpan filosofi hidup, nilai budaya, hingga sejarah panjang masyarakat Nusantara.

“Saya datang bukan hanya untuk belajar gerakan, tetapi memahami budaya dan kehidupan masyarakatnya,” ujar Massimilliano.

Ia mengatakan telah mengenal pencak silat Indonesia sejak puluhan tahun lalu dan rutin datang ke Indonesia untuk memperdalam ilmu sekaligus menjalin hubungan budaya dengan para pelestari silat tradisional.

Menurutnya, pencak silat Banten memiliki karakter khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Selain gerakannya yang unik, nuansa budaya yang melekat di dalamnya membuat silat terasa hidup dan memiliki identitas kuat.

“Di sini saya merasa seperti keluarga sendiri. Budayanya masih terasa sangat kuat,” katanya.

Massimilliano menambahkan, perguruan silat yang dipimpinnya di Italia kini memiliki ratusan anggota dari berbagai latar belakang profesi.

Banyak di antara mereka tertarik mempelajari pencak silat karena melihatnya sebagai perpaduan antara seni, budaya, dan nilai kehidupan.

Sementara itu, pemilik Sanggar Putra Panglipur Banten, Imas, menyebut kedatangan para pesilat dari luar negeri menjadi semangat baru bagi para pelaku seni budaya lokal di Kabupaten Lebak.

Menurutnya, perhatian masyarakat internasional terhadap pencak silat menjadi bukti bahwa budaya daerah masih memiliki daya tarik besar jika terus dijaga dan dikenalkan secara konsisten.

“Kadang kita sendiri lupa menjaga budaya, tapi justru orang luar yang datang ingin belajar,” ujarnya.

Ia mengaku selama beberapa tahun terakhir sanggarnya beberapa kali menerima kunjungan budaya dari luar negeri. Namun seluruh kegiatan masih dilakukan secara mandiri dengan keterbatasan fasilitas yang ada.

Meski demikian, pembinaan terhadap generasi muda tetap terus dilakukan agar budaya silat tradisional tidak hilang ditelan zaman.

Bagi Imas, cara paling efektif menjaga budaya adalah membuat anak-anak merasa dekat dan bangga terhadap tradisinya sendiri.

“Kalau mereka sudah suka, nanti budaya itu akan hidup dengan sendirinya,” katanya.

Kehadiran pesilat Italia di Kabupaten Lebak menjadi gambaran bahwa budaya lokal tidak selalu kalah oleh arus globalisasi.

Di saat sebagian generasi muda mulai menjauh dari tradisi, pencak silat tradisional Banten justru mendapat ruang dan penghormatan di mata dunia. (*/Sahrul).

DPRD Kab Serang Idul Adha
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien