Gubernur Banten Sebut Erupsi Gunung Anak Krakatau Tidak Menunjukkan Indikasi Tsunami
SERANG — Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) saat ini tidak menunjukkan indikasi terjadinya tsunami.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta Badan Geologi.
Hal tersebut disampaikan Andra Soni usai mengikuti rapat koordinasi bersama Badan Geologi dan BMKG di Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Pasauran, Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026).
Menurut Andra Soni, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan situasi pada 2018 yang memicu tsunami akibat longsoran tubuh gunung.
Ia menjelaskan, salah satu perbedaan utama terdapat pada kondisi dan ukuran tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini yang masih relatif landai.
“Indikasi kenapa sekarang tidak terjadi tsunami, ukuran badannya jauh dengan 2018. 2018 tingginya kurang lebih di atas permukaan laut itu 300 sekian meter. Kalau sekarang masih landai,” kata Andra Soni.
Meski demikian, Andra Soni menegaskan pemerintah tidak ingin mengabaikan potensi risiko.
Analisis dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau oleh Badan Geologi sebagai salah satu rujukan utama pemerintah dalam menentukan langkah mitigasi.
“Namun tentu kita terus waspada. Badan Geologi tentu memiliki kemampuan untuk bisa menganalisa, dan acuan kita adalah Badan Geologi,” ujarnya.
Andra Soni meminta masyarakat tidak panik menyikapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang telah berlangsung sejak 2 Juli 2026.
Menurutnya, status Gunung Anak Krakatau telah berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas erupsi juga sempat berlangsung terus-menerus hingga sekitar 25 jam dan disertai dentuman maupun suara gemuruh yang sempat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama karena adanya abu vulkanik yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga diminta menggunakan masker sebagai perlindungan dari paparan abu vulkanik.
“Yang kami sampaikan kepada masyarakat untuk tenang, kemudian tanpa mengurangi kewaspadaan, dan juga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan dimohonkan untuk menggunakan masker karena saat ini terjadi abu vulkanik yang membahayakan kepada kesehatan,” katanya.
Selain masyarakat di daratan, Andra Soni juga mengingatkan nelayan dan wisatawan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.
Pemprov Banten bersama pemerintah kabupaten/kota juga diminta terus memperkuat koordinasi mitigasi bencana hingga tingkat desa.
Andra Soni menegaskan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah dalam menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Keselamatan daripada masyarakat adalah hal yang paling utama,” tegasnya.
Menyikapi trauma masyarakat terhadap tsunami Selat Sunda 2018, pemerintah daerah diminta memastikan seluruh perangkat mitigasi telah disiapkan.
Salah satunya dengan memastikan jalur evakuasi dan lokasi pengungsian dalam kondisi siap apabila sewaktu-waktu diperlukan.
“Memastikan jalur evakuasi, memastikan tempat-tempat pengungsian itu siap,” ujar Andra Soni.
Ia juga meminta masyarakat mendapatkan informasi hanya dari kanal resmi, seperti Badan Geologi dan BPBD masing-masing daerah, guna menghindari kepanikan akibat informasi yang belum terverifikasi.
Andra Soni memastikan Pemprov Banten bersama pemerintah kabupaten/kota, dengan dukungan Badan Geologi, akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
“Kami memastikan bahwa kami memposisikan keselamatan masyarakat adalah yang paling utama,” pungkasnya.***


