Dinkes Cilegon Temukan Masalah Sampah dan IPAL di Dapur MBG Randakari

CILEGON – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, melakukan monitoring terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampung Ciburuh, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan, pada Rabu (2/9/2026) kemarin.

Langkah itu dilakukan, sebagai tindak lanjut atas keluhan masyarakat terkait bau yang muncul di sekitar lokasi.

Monitoring dilakukan oleh Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Dinkes Kota Cilegon bersama Tim Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) Puskesmas Ciwandan.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, petugas menemukan sejumlah persoalan dalam pengelolaan lingkungan dapur SPPG, terutama terkait mekanisme pengangkutan sampah dan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon dr. Ratih Purnamasari melalui tim pemeriksa mengatakan, persoalan sampah sempat terjadi di lingkungan dapur SPPG Ciburuh Randakari.

“Dalam hasil monitoring tersebut, Dinkes menemukan bahwa persoalan sampah sempat terjadi di dapur SPPG,” katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (5/9/2026).

Penumpukan sampah terjadi karena belum terdapat penyelesaian terkait mekanisme pengangkutan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) di dapur SPPG menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Padahal, sampah yang berasal dari aktivitas dapur idealnya diangkut secara rutin setiap hari. Namun, berdasarkan hasil monitoring Dinkes, pengangkutan sampah yang berlangsung saat ini baru dilakukan sekitar dua kali dalam sepekan.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyebabkan sampah menumpuk dan menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya bau di sekitar dapur SPPG.

Selain persoalan sampah, Dinkes Kota Cilegon juga menemukan adanya ketidaksesuaian pada perangkat pengolahan limbah cair yang tersedia di dapur SPPG tersebut.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa perangkat IPAL yang tersedia di dapur SPPG Randakari belum sesuai spesifikasi untuk melakukan pengolahan air limbah,” ujarnya.

Perangkat yang tersedia saat ini disebut masih berupa bak kontrol yang lebih berfungsi sebagai penyaringan. Sementara itu, sistem tersebut belum memenuhi fungsi sebagai instalasi pengolahan air limbah secara menyeluruh.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena aktivitas dapur SPPG menghasilkan limbah cair setiap hari, baik dari proses memasak, pencucian peralatan makan, maupun sisa bahan makanan.

“Dapur SPPG merupakan fasilitas yang setiap hari menghasilkan limbah dari aktivitas memasak, pencucian peralatan makan, hingga sisa bahan makanan,” katanya.

Dengan tingginya aktivitas operasional dapur, pengelolaan limbah cair dinilai membutuhkan sistem yang memadai agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

Atas hasil monitoring tersebut, Dinkes Kota Cilegon memberikan sejumlah rekomendasi kepada yayasan, mitra, dan Kepala SPPG Ciburuh Randakari.

Pengelola diminta segera berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memastikan mekanisme pengangkutan sampah dapat dilakukan secara rutin setiap hari.

Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah di lingkungan dapur yang berpotensi menimbulkan bau dan mengganggu masyarakat sekitar.

“Selain itu, pengelola juga diminta memastikan spesifikasi IPAL yang digunakan sesuai dengan kebutuhan pengolahan limbah cair dari aktivitas dapur SPPG,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Ciburuh Randakari, Yudi Yanto, mengakui bahwa persoalan bau memang sempat terjadi pada masa awal operasional dapur.

Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan sistem IPAL yang ketika itu belum berfungsi secara optimal.

“Yang bau memang ada, tapi sudah dibangun lagi,” ujar Yudi.

Ia mengatakan pihak pengelola sebelumnya telah melakukan sejumlah perbaikan terhadap sistem pembuangan limbah, di antaranya dengan memperpanjang pipa saluran IPAL dan mengubah arah pembuangan.

Perbaikan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi persoalan bau yang sebelumnya dikeluhkan masyarakat di sekitar lokasi.

Selain persoalan bau, aktivitas dapur SPPG juga sebelumnya mendapat perhatian terkait kebisingan yang ditimbulkan dari proses pencucian ribuan ompreng atau wadah makanan.

Pihak pengelola mengakui adanya persoalan tersebut dan berencana melakukan perbaikan pada bagian bangunan yang masih terbuka.

“Pihak yayasan akan memasang penutup pada bagian bangunan yang masih terbuka untuk meredam suara,” pungkasnya.***

Comments (0)
Add Comment