Menteri Perindustrian Kunjungi Pabrik Baru Krakatau Steel yang Senilai USD 521 juta

Agus pun menjelaskan, Kementerian Perindustrian memiliki program subtitusi impor sampai 2022. Disisi lain, ia berharap Krakatau Steel dapat berkembang menjadi lebih besar.

“Kementerian Perindustrian memiliki program subtitusi impor sebesar 35% sampai 2022. Dimana produk baja yang dihasilkan dari pabrik HSM 2 milik Krakatau Steel nantinya dapat berkontribusi mengisi ruang impor tersebut. Kami berharap Krakatau Steel dapat tumbuh berkembang menjadi lebih besar dan dengan penambahan kapasitas yang dapat menggairahkan utilisasi baja nasional,” tegas Menteri Perindustrian RI.

Pemerintah mendukung industri dalam negeri dengan serangkaian peraturan dan kebijakan yang berpihak pada industri nasional. Upaya pengendalian importasi dan menjaga kualitas besi dan baja dalam negeri menjadi salah satu prioritas Kementerian Perindustrian dalam meningkatkan pertumbuhan industri.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Krakatau Steel (Persero) TBK Silmy Karim mengucapkan terimakasih pada Menteri Perindustrian yang berkenan hadir, dan mengunjungi fasilitas produksi baru KS yang nilai investasinya mencapai USD 521 juta.

“Saya berterima kasih kepada Bapak Menteri Perindustrian karena telah berkenan mengunjungi fasilitas produksi baru kami di mana nilai investasinya mencapai USD 521 juta. Kunjungan ini merupakan bentuk komitmen dan dukungan dalam melindungi serta memajukan industri dalam negeri khususnya industri baja,” jelas bos Krakatau Steel ini.

Bagi Silmy, dengan dukungan Pemerintah dan peningkatan kapasitas perusahaan yang terus bertumbuh, ia yakin PT. Krakatau Steel (KRAS) dapat memenuhi kebutuhan industri baja domestik.

“Dengan dukungan dari pemerintah dan peningkatan kapasitas Krakatau Steel yang terus tumbuh, kami yakin Krakatau Steel dapat memenuhi kebutuhan industri baja domestik sehingga kemandirian industri baja nasional dapat terwujud,” pungkas Silmy Karim. (*/A.Laksono).

CilegonMenperin
Comments (0)
Add Comment