CILEGON – PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Cilegon Mandiri (BPRS-CM) Kota Cilegon terus melakukan pembenahan untuk memperbaiki kinerja keuangan dan mengejar perolehan laba pada 2026.
Direktur BPRS-CM, Muhammad Yoka Dhesturaka, menuturkan perseroan masih berada dalam tahap pembenahan sehingga belum dapat memberikan dividen kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon pada tahun ini.
Meski demikian, BPRS-CM optimistis dapat mulai membukukan laba pada tahun depan.
Target awal yang dipasang berada di kisaran Rp500 juta sebagai pijakan untuk memperkuat kinerja perusahaan.
“Kalau tahun depan insya Allah sih optimis, minimal itu minimal belum bicara dividen tuh membukukan laba aja dulu,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Ia menambahkan, target tersebut akan diawali dengan upaya menjaga kinerja perseroan tetap positif. Proyeksi laba awal BPRS-CM diperkirakan berada di angka sekitar Rp500 juta.
Salah satu pembenahan yang menjadi perhatian utama adalah penanganan pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF/NPL).
Perseroan mengaku telah berhasil menekan nilai pembiayaan bermasalah secara signifikan sejak Yoka mulai memimpin pada Oktober 2025.
“Kalau turun dari saya awal masuk Oktober Mas 2025 itu sangat jauh sekali dengan yang sekarang. Jadi ada penurunan kurang lebih 5,6 miliar,” katanya.
Menurut Yoka, pembiayaan bermasalah yang sebelumnya menjadi persoalan kronis kini mulai dipetakan dan ditangani secara lebih terarah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk memperbaiki kualitas aset sekaligus memperkuat kinerja BPRS-CM.
“Pembenahan tentunya ke pembiayaan bermasalah ya. Pembiayaan bermasalah yang memang sebelumnya ini kronis sekali,” ujarnya.
Ia mengatakan, proses pembenahan dilakukan dengan memetakan pembiayaan bermasalah berdasarkan kondisi masing-masing nasabah agar penanganannya dapat dilakukan secara tepat.
Selain membenahi kualitas pembiayaan, BPRS-CM juga membidik perluasan basis nasabah dari lingkungan Pemerintah Kota Cilegon.
Salah satunya dengan mendorong agar pegawai pemerintah, termasuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dapat menjadi bagian dari layanan BPRS-CM.
Persiapan untuk menggarap segmen tersebut dilakukan dengan meningkatkan pelayanan dan mengoptimalkan kembali outlet yang telah dimiliki.
Penambahan sumber daya manusia juga akan dilakukan apabila kebutuhan pelayanan meningkat.
“Untuk persiapan, ya otomatis outlet-nya sudah mulai diramaikan lagi, pelayanannya ditingkatkan, kan gitu kan. Kalau misal kurang orang ditambah,” imbuhnya.
Penguatan layanan tersebut dilakukan sebagai bagian dari pembenahan internal perusahaan.
Menurut Yoka, peningkatan tidak hanya diarahkan pada penambahan jaringan, tetapi juga pada kualitas proses pelayanan kepada nasabah.
“Pembenahan-pembenahan itu, tapi hanya sifatnya memang di sekuens pelayanannya aja,” jelasnya.
Di sisi ekspansi, BPRS-CM juga masih mempertimbangkan rencana pembukaan Kantor Kas Merak.
Rencana tersebut telah masuk dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), namun realisasinya masih dikaji dari sisi biaya agar ekspansi tidak justru membebani keuangan perusahaan.
Yoka menegaskan, ekspansi harus dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan perusahaan.
Penambahan jaringan pelayanan tidak boleh membuat beban operasional meningkat hingga berpotensi memperbesar kerugian.
Kendati demikian, pembukaan kantor baru dinilai berpotensi meningkatkan jangkauan pelayanan BPRS-CM. Dengan bertambahnya satu kantor, konsentrasi pelayanan yang saat ini tersebar di tiga kantor dapat diperluas.
“Ada kantor baru otomatis pelayanannya kan semakin meningkat ya. Jadi konsentrasi orang yang semula cuma tiga kantor sekarang jadi empat kantor kan pasti lebih membantu,” ujarnya.
Upaya meningkatkan kinerja juga dilakukan melalui penguatan koordinasi dengan Pemerintah Kota Cilegon, termasuk dalam menjembatani komunikasi terkait pengelolaan keuangan pegawai Pemerintah Kota Cilegon tersebut.
“Dibantu Komisi 3 nih, gitu kan. Dibantu Komisi 3 untuk menjembatani antara kami dengan BPKD dengan si bank penerima RKUD,” katanya.
Menurutnya, sejumlah kendala teknis dalam proses tersebut masih dapat ditekan sehingga tidak menghambat upaya BPRS-CM meningkatkan kinerja bisnis.
Optimalisasi tersebut diharapkan dapat turut memperkuat pendapatan perusahaan.
Yoka menambahkan, peningkatan kinerja bisnis diharapkan dapat mendongkrak pendapatan melalui margin yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama perbankan.
“Minimal bisa mendongkrak lah gitu kan, bisa mendongkrak ini kita ya. Kalau kita bicara NIM, margin, itu kan kalau bank ya itu kisaran 4 sampai dengan 5% lah,” pungkasnya. ***