SURABAYA – Usai menutup operasional haji 2026, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) M. Irfan Yusuf membeberkan tantangan besar yang masih dihadapi serta inovasi yang akan menjadi fokus perbaikan tahun depan.
“Alhamdulillah penyelenggaraan berjalan lebih awal. Visa keluar pertengahan Ramadan. Tapi kami jujur, masih ada PR, khususnya di kesehatan dan Armuzna,” kata Gus Irfan, sapaannya.
Kemenhaj mencatat penurunan angka kematian jamaah sekitar 20% dibanding 2025. Namun Gus Irfan menyebut capaian itu belum memuaskan.
“Tahun ini 367 jamaah dan 1 petugas wafat. Target kami ke depan adalah menekan lebih rendah lagi. Kami akan perketat layanan kesehatan,” tegasnya.
Berkaitan dengan hal itu, luas area Mina yang hanya sekitar seperempat dari Arafah disebut menjadi kendala utama.
Kondisi padat itu berisiko terhadap kenyamanan dan keselamatan jamaah.
“Diperlukan penanganan khusus. Insyaallah kami akan bentuk dakar atau tim khusus hanya untuk mengurus Armuzna di Mina. Mudah-mudahan bisa kami laksanakan tahun depan,” jelasnya.
Gus Irfan menyebut beberapa terobosan tahun ini yang mendapat apresiasi dari DPR dan Presiden Prabowo.
Misalnya, Embarkasi baru, dimana pertama kali menerapkan embarkasi tanpa asrama haji di Jogja untuk mengurai kepadatan. Kedua petugas semi militer. Petugas haji dibekali diklat semi militer.
“Respon jamaah luar biasa. Mereka sangat mengapresiasi kinerja petugas di lapangan,” ujarnya.
Selanjutnya Digitalisasi, dimana sistem tracking untuk distribusi catering dan posisi petugas.
“Catering hotel belum datang jam sekian, kita langsung tahu posisinya di mana. Petugas A sedang di mana, bisa dipantau real time,” katanya.
Terakhir Syarikah yang Berkantor di Jakarta. Seluruh syarikah wajib membuka kantor perwakilan di Jakarta agar komunikasi pelayanan lebih cepat.
Salah satu rencana besar, yaitu mengaktifkan Bandara Daha, Kediri, sebagai embarkasi haji.
Ia menyebut, bandara itu sangat layak untuk pesawat berbadan besar.
“Jawa Timur tahun ini ada 116 kloter. Asrama Haji Surabaya hampir 24 jam tidak istirahat. Kepala UPT-nya sampai tumbang karena intensitas tinggi,” ungkapnya.
Jika disetujui, sebagian kloter Jatim akan dialihkan ke Kediri. Data menunjukkan jumlah kloter Jatim berkurang 30 kloter dari 107 menjadi 77 kloter atau turun 28%.
“Itu bagus, tapi belum ideal. Kami akan usahakan lebih baik lagi,” lanjutnya.
Kemenhaj juga membentuk Satgas bersama Polri dan Imigrasi untuk mencegah praktik haji di luar prosedur. Gus Irfan mengakui keterbatasan SDM.
“Tim kami baru 50% dari kebutuhan ideal. Tapi dengan jumlah itu, alhamdulillah kita bisa laksanakan semua dengan baik,” tuturnya.
Ia menutup dengan optimisme agar penyelenggaraan haji tahun 2027 lebih baik lagi.***