Menhaj Kunjungi KKHI Madinah, Operasional Layanan Kesehatan Kurang Efektif Akan Dievaluasi

MADINAH – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochammad Irfan Yusuf, melakukan kunjungan untuk meninjau kesiapan layanan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, Kamis (4/6/2026).

Peninjauan ini memastikan kesiapan layanan kesehatan untuk jemaah haji gelombang kedua yang mulai bergeser dari Makkah ke Madinah, pada 7 Juni 2026 besok.

Layanan KKHI yang harus dipersiapkan pada seluruh aspek, baik tenaga kesehatan, ruang perawatan, poliklinik, maupun peralatan medis.

Menhaj bersama rombongan Amirul Hajj melihat seluruh ruang pelayanan kesehatan, dari lantai dasar hingga lantai atas.

Di setiap ruangan, rombongan mendapat penjelasan dari Kepala KKHI dr Enny Nuryanti.

Di momen itu, Menhaj Gus Irfan menyoroti efektivitas operasional gedung KKHI yang dinilai belum optimal.

Dari lima lantai yang ada, ternyata hanya dua lantai yang saat ini dimanfaatkan untuk pelayanan KKHI.

Menurut Gus Irfan, pola operasional yang digunakan saat ini perlu penyesuaian agar lebih efisien.

“Secara umum sudah ada kesiapan, tetapi ke depan perlu dipertimbangkan kembali model layanan seperti ini. Saya melihat ada kemubaziran. Ini akan menjadi bahan evaluasi untuk dibahas lebih lanjut di Jakarta,” ungkapnya.

Gus Irfan juga menyesalkan sistem birokrasi Indonesia yang berbelit dalam hal penambahan jumlah tenaga kesehatan. Padahal Indonesia harus selalu menghadapi tantangan berat setiap musim haji untuk menangani masalah kesehatan jemaah.

Gus Irfan juga mengungkapkan bahwa jumlah tenaga kesehatan saat ini masih belum memenuhi standar yang ditetapkan otoritas Arab Saudi.

Dalam hal rasio dokter dan perawat, Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengatur bahwa setiap 1.000 jemaah harus memenuhi 1,5 dokter, artinya untuk 200 ribu jemaah diperlukan 300 dokter.

Kemudian untuk perawat 1,7 setiap 1.000 jemaah. Artinya untuk 200 ribu jemaah, diperlukan 340 perawat.

“Dan ini masih belum kita penuhi. Inilah repotnya kita di sini dan kadang-kadang kita berusaha menambah dokter, tapi dokter ini ternyata regulasinya berbeda dengan menambah petugas yang lain. Petugas lain cepat kita masukkan selesai. Sementara kalau dokter masih diperlukan persyaratan yang ada. Ini agak ribet lagi sehingga ini juga menjadi salah satu kendala kita,” ungkap Gus Irfan kepada Media Center Haji.

Dia juga menyoroti layanan di KKHI yang tidak boleh menerima pasien rawat inap, sesuai dengan regulasi Pemerintah Arab Saudi.

“Apakah KKHI memiliki kesiapan layanan rawat inap?” tanya Menhaj.

“Kami siap beberapa bed dengan pasien tertentu untuk melayani rawat inap. Namun kami bisa kena teguran apabila melayani pasien rawat inap,” ungkap dr Enny.

Menurutnya, fasilitas tersebut hanya dapat digunakan untuk observasi maksimal dua jam (120 menit) sebelum pasien harus dirujuk ke rumah sakit.

“Dengan gedung sebesar ini, apakah efektif jika hanya untuk pemeriksaan dua jam? Ini perlu kita pikirkan model lain yang sesuai regulasi di Saudi,” ungkapnya.

“KKHI ini walaupun boleh beroperasi tapi regulasinya bahwa KKHI ini tidak boleh merawat inap. Kalau tidak boleh merawat inap ya ngapain kita bikin KKHI. Sehingga kita berpikir, cukup memaksimalkan layanan pada klinik satelit kemudian langsung ke rumah sakit,” ujar Gus Irfan.

Meski banyak hal yang dievaluasi dalam layanan kesehatan, namun diakui Gus Irfan, Kementeri Haji Arab Saudi cukup memberikan apresiasi atas kerja keras layanan kesehatan, karena terbukti hasilnya angka kematian yang turun dibandingkan tahun sebelumnya.

“Hampir 50 persen angka kematian turun sekarang ini. Tahun kemarin itu 460 sekian meninggal. Sekarang per hari ini jumlah jemaah meninggal 208, dibandingkan hari yang sama tahun lalu jumlahnya 301 jemaah yang meninggal,” jelas Menhaj.

Kunjungan kali ini juga menurut Gus Irfan, agar tenaga medis dan layanan kesehatan lebih mempersiapkan diri untuk antisipasi kondisi kesehatan jemaah pada fase gelombang kedua.

Dijelaskan Gus Irfan, periode pasca Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) di Makkah biasanya menjadi fase paling rawan, ditandai dengan meningkatnya jumlah jemaah sakit hingga wafat.

“Pasca Armuzna memang banyak jamaah yang drop. Angka sakit dan meninggal meningkat, ini menjadi perhatian bersama,” tandasnya.

Terkait kesiapan operasional, Kepala KKHI Madinah, dr Enny Nuryanti, menjelaskan bahwa timnya saat ini didukung oleh 38 personel termasuk sembilan dokter.

Di sisi lain setiap sektor ada klinik satelit dengan dua dokter dan dua perawat.

“Untuk ambulan, kita punya dua unit di sini dan satu di setiap sektor, jadi total ada tujuh ambulan yang siap beroperasi,” ungkapnya. (*/Red/MCH-2026)

gus irfanKlinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI)Madinahmenhaj
Comments (0)
Add Comment